Selasa, 18 Maret 2014

MAU JADI SAKSI ??

(Matius 28:18-20, Kisah 1:8b)
Kita tidak diminta Tuhan Yesus datang ke gereja dengan konsep 4 D. Apa maksudnya? 4 D itu adalah Datang, Duduk, Diam, Dengar, tetapi kita perlu 4 P, apa itu? Pikirkan baik-baik, Pelajari Firman Tuhan, Persiapkan diri, dan Pergi menjadi saksi Kristus. Seberapa pentingkankah menjadi Saksi Kristus?

Sebagai umat Tuhan, kadang kita lalai akan tugas kita yang paling penting. Kita berpikir apabila telah menghabiskan waktu berjam-jam melayani di gereja itu sudah cukup. Padahal ada suatu tugas yang sangat mendasar, yang harus kita lakukan. Yakni pergi menjadi saksi Kristus. Menyaksikan kepada orang banyak, apa yang Yesus perbuat terhadap diri kita.
Dalam sebuah majalah bulanan Moody diceritakan tentang seorang bernama Peter Stam. Di situ dikatakan bahwa ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersaksi bagi Kristus. Pada suatu hari ia masuk ke dalam sebuah “Lift”. Dalam lift itu Peter Stam hanya berdua dengan seorang wanita petugas lift itu. Peter Stam berkata kepada petugas lift itu, “Kiranya perjalanan anda yang terakhir di dalam hidup ini adalah naik (menuju ke sorga), bukan turun (menuju ke neraka)”.
Petugas itu kaget mendengar perkataan itu. Sebagai jawaban, Peter Stam hanya memberikan senyuman manis. Selanjutnya Peter Stam berkata: Sekarang saya berumur 70 tahun dan tidak lama lagi saya akan bertemu dengan Juruselamat saya. Saya harap saya akan bertemu dengan anda nanti di sana  Inilah kesaksian yang diberikan dengan berani oleh Peter Stam. Kesaksian yang singkat, namun sangat menyentuh hati seseorang. Saya pikir kita juga dapat melakukannya.
  1. Bersaksi adalah menceritakan apa yang kita alami
Setiap orang yang mengaku Yesus sebagai Juruselamatnya, maka panggilan untuknya adalah menjadi saksi. Setiap orang percaya harus mengetahui tugas ini. Namun tidak jarang kita temukan masih banyak orang-orang percaya yang masih takut bersaksi. Mengapa takut bersaksi? Apabila kita pergi ke pengadilan, jika ada seorang saksi yang takut bersaksi maka kemungkinan besar bahwa kesaksiannya itu bohong atau tidak benar. Kemungkinan lain adalah saksi tersebut sedang diintimidasi, ditekan, diancam dan sebagainya, sehingga ia takut.
Mengapa orang Kristen tidak berani bersaksi? Apakah kita sedang percaya pada Juruselamat yang palsu? Apakah kita sedang berada di bawah ancaman? Ingatlah, ayat 18 berbunyi: “Yesus telah menerima segala kuasa baik di sorga dan di bumi” Artinya bahwa, Yesus berkuasa atas segala-galanya.
Biasanya di pengadilan, seorang saksi dihadirkan tugasnya untuk menceritakan dengan jujur dan benar apa yang diketahuinya saja. Ia tidak perlu membela diri, berdebat atau berusaha meyakinkan orang lain. Orang lain mau percaya atau tidak, bukan masalah yang penting saksi tersebut telah menceritakan dengan jujur dan benar. Ketidakpercayaan seseorang tidak akan mengubah kebenaran menjadi salah.
Sedangkan untuk membela ada tugas orang lain lagi, yang kita sebut dengan pengacara atau pembela. Orang ini dibekali berbagai ilmu dan ahli untuk membela kliennya. Jadi jelas sekali, bersaksi cukup gampang bukan. Ceritakanlah apa saja yang anda ketahui.
            Konteknya kita sebagi orang percaya, kalau kita diminta menjadi saksi artinya; kita mesti ceritakan apa saja yang anda alami bersama Tuhan Yesus. Memang saya mengetahui untuk memulainya tidak gampang. Apalagi kadang kita harus menghadapi mereka yang keras kepala dan tegar tengkuk, sehingga menutup telinga ketika mendengar kesaksian kita. Itu sebabnya kita perlu mencari celah-celah dan momen percakapan yang tepat, sehingga dengan mulus menceritakan kesaksian kita. Kita juga memerlukan adanya cara dan teknik yang memancing agar pintu hati orang-orang boleh terbuka mendengar kesaksian kita.
            Saya mencoba memberikan beberapa tips untuk kita. Saya yakin setiap kita juga dapat membuat tips itu sendiri untuk memancing diri supaya anda dapat bersaksi.
1.      Misalnya ketika anda bertemu dengan seseorang? Maka biasanya  kita berbasa-basi dengan berkata Hallo, apa kabar? Mungkin dia akan menjawab Kabar baik? Lalu pasti ia akan bertanya balik pada bagaimana kabar kita? Maka kita bisa menjawab dengan jawaban yang memancing: “Keadaan saya lebih baik dari waktu-waktu kemarin?” Dia bakal bertanya, “apakah anda sakit?” Maka terbukalah kesempatan bagi anda untuk mulai bersaksi. “Saya tidak sakit, namun semjak tiga tahun yang lalu saya menerima keselamatan dari Tuhan Yesus, maka hidupku rasanya setiap hari lebih baik dari kemarin”en
2.      Kalau anda kebetulan naik taksi, lalu hendak memulai pembicaraan anda dengan sang sopir. Mungkin kalimat ini dapat membantu “Saya dengar sangat berbahaya kalau jalan di jalan ini pada waktu malam?” Mungkin iya akan menjawab, iya banyak perampoknya atau apa saja? Lalu kita bertanya lagi, “tahukah anda di mana yang paling aman?” Barangkali ia akan menjawab tidak tahu, satu dia sebutkan satu tempat.. Maka kita dapat mengatakan: “Hidup yang paling aman dalam diri saya adalah adalah semenjak saya menyerahkan pimpinannya kepada Tuhan Yesus“
3.      Selain uang dan kartu kredit ada orang yang bangga meletakkan foto-foto keluarganya di dalam dompet. Anda boleh coba itu. Lalu anda keluarkan dompet dan memperkenalkan diri, ini isteri atau suami dan anak-anak. Lalu anda dapat melanjutkannya, namun sesungguhnya, sejak 5 tahun yang lalu saya tidak menjadi kepala rumah tangga. Atau semenjak 5 tahun lalau suami saya tidak menjadi kepala rumah tangga, kalau anda seorang wanita. Tentu hal ini mengundang pertanyaan? Mengapa? Maka jawaban kita: Semenjak saya percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi saya, maka kepala Rumah Tangga kami adalah Yesus Kristus, itu sebabnya saya tidak pernah merasa kuatir akan kehidupan keluarga kami baik keuangan, kesehatan, pekerjaan, kemanan dan sekolah anak-anak.”
  1. Bersaksi bukan untuk memenangkan jiwa
Jelas sekali Alkitab mencatat bahwa kita diminta bersaksi. Hanya bersaksi dan tidak ada tugas memenangkan jiwa, walaupun akhirnya ada orang yang dimenangkan bagi Tuhan. “Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi “(Kis 1:8b).  Kesaksian kita akan Kristus itu tidak hanya dilakukan di dalam lingkungan gereja, tetapi kita akan keluar menerobos komunitas umum. Maksudnya, kesaksian itu akan disampaikan kepada mereka yang ras, bangsa dan bahasa yang lain juga.
            Konsep pelayanan yang ada di dalam Matius 10:5-6 agak berbeda. Waktu itu sasaran penginjilannya hanyalah orang-orang Yahudi, maka sekarang sasarannya adalah ‘semua bangsa’! Untuk mencapai ini maka orang-orang percaya pada saat itu mengalami tekanan dan ancaman, sehingga karena pekabaran Injil mereka diancam, ditangkap bahkan dibunuh. Dengan demikian maka diaspora terjadi, para rasul dan pekabar Injil beserta orang-orang percaya berpencar ke seluruh penjuru bumi. Itu sebabnya hari ini kita mendapat kesempatan mendengarkan kabar keselamatan itu.
            Terlalu egois, kalau kekristenan adalah agamanya orang Yahudi saja. Bahkan ada konsep pemikiran yang salah yang mengatakan bahwa Kristus adalah Juruselamat untuk orang Yahudi saja.  Kristus datang ke dunia hendak menyelamatkan semua orang, itu sebabnya Kristus bukan hanya untuk golongan atau untuk bangsa tertentu saja. Tugas kita menjadi saksi buat semua orang di dunia ini.
            Kondisi pada jaman itu sebagai saksi Kristus tentu sangat berbahaya, sebab pihak pemerintah Roma tidak segan-segan menangkap mereka. Jadi walaupun bersaksi itu gampang, namun pelaksanaannya cukup sulit. Namun kita perlu bersyukur kalau saat ini masih diberi kesempatan bercerita pada orang lain, ketimbang bercerita hal-hal yang tidak berguna, bukankah lebih baik kita menceritakan tentang Yesus. Tugas yang diberikan Tuhan Yesus bukan untuk memenangkan orang, hanya bersaksi. Dan Roh Kudus yang bekerja.
  1. Bersaksi itu  mandatnya dari Yesus Kristus
      Yesus tidak memanggil kita untuk mati bagi-Nya, hal ini tidak ada gunanya, sia-sia. Tetapi Yesus memanggil kita untuk hidup bagi-Nya, memberitakan Injilnya. Pertanyaannya adalah, mana lebih sulit hidup bagi Tuhan Yesus atau mati bagi Tuhan Yesus? Spontanitas ada yang mengatakan mati bagi Tuhan Yesus? Sebab ia merasakan betapa menderitanya mati bagi Kristus itu. Tetapi saya ingin mengatakan kepada anda, bahwa hidup bagi Kristus akan lebih sulit. Sebab  seumur hidup kita berjuang untuk Kristus. Kalau mati bagi Kristus gampang saja, mungkin secepat selentikan, kita sudah mati. Namun bila hidup bagi Kristus kita memiliki tantangan seumur hidup. Itu sebabnya, tidak kalah penting kehidupan pribadi dari orang yang menjadi saksi ini juga sangat diperhitungkan.
      Lihat  ayat 19-20, Amanat Agung Tuhan Yesus. Di sana dikatakan Jadikanlah semua bangsa muridKu. Kalau kita perhatikan di dalam teks bahasa aslinya jadikan murid adalah satu-satunya kata perintah dalam bagian ini. Sedang pergilah’, ‘baptislah, dan ‘ajarlah’ apa yang merupakan tindakan seorang murid. Karena amanat Agung adalah perintah Tuhan sedangkan Tuhan juga telah memiliki kuasa baik di sorga maupun di bumi, tentu kita tidak perlu takut menjadi saksi. Memang untuk menjadi saksi perlu hikmat, supaya kita tidak terjebak pada orang-orang yang hendak mencelakakan kita sebelum waktunya tiba. Artinya, jikalau didalam bersaksi itu ternyata ada bahaya yang terjadi, jika memang masih ada kesempatan bagi kita melepaskan diri, tentu dengan hikmat kita mengambil kesempatan tersebut. Kemungkinan Tuhan Yesus akan memakai kita lagi di kesempatan dan waktu yang lain.
                  Kalau ada orang bertanya, mengapa kita ngotot menyaksikan tentang Kristus. Maka jawabannya adalah di dalam Kisah 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”. Jadi tidak dapat ditawar-tawar lagi, hanya Tuhan Yesus yang paling berkuasa dan siapa pun orangnya harus tunduk pada-Nya. 1Yohanes 5:11-12 - “Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup”.
Itulah sebabnya apabila dikatakan bahwa orang yang tidak percaya pada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadinya akan masuk neraka, hal ini bukan menakut-nakuti. Tetapi kebenarannya memang demikian. Karena Kristus adalah satu-satunya Juruselamat dosa manusia. Tentu bagi yang tidak mau percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat harus membayar dosanya sendiri.  Demi Tuhan Yesus dan kita mengasihi sesama, maka jangan takut menjadi saksi bagi Kristus.
Perintah Tuhan Yesus itu meminta kita “pergi”, dengan demikian kita didorong untuk keluar, bukan hanya tunggu di dalam. Pergi juga berarti, kita harus keluar dari gereja dan menjadi saksi. Di mana saja, kapan saja dan untuk siapa saja. Mungkin tempat itu adalah kantor, kampus, pasar, di atas kereta api, bus, pesawat. Sudah dan bersediakah anda menjadi saksi-Nya? Ingatlah, amanat Agung ini berlaku bagi semua orang percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar