Kamis, 31 Juli 2014

Kedamaian Hanya di dalam Yesus




                                           Kedamaian Hanya di dalam Yesus

Sebagai orang percaya, saya meyakini bahwa kedamaian hanya di dalam Yesus. Tidak di tempat lain. Di dalam Yesus, akan selalu ada damai yang menentramkan hati kita. Orang boleh saja berkata ada kedamaian di sana sini, namun lewat pengalaman hidup ini saya jadi percaya bahwa sungguh kedamaian hanya di dalam Yesus.

Melalui pengalaman hidup sendiri dan jauh dari orangtua, saya begitu merasakan bahwa Yesus memberikan damai yang sesungguhnya. Kedamaian yang membuat saya tenang meskipun ada banyak pergumulan dan masalah. Kedamaian yang membuat saya bisa fokus belajar. Kedamaian yang membuat saya dapat tidur dengan nyenyak setiap malam. Kedamaian yang membuat saya bisa efisien dan memanfaatkan waktu dengan baik. Kedamaian yang membuat saya dapat menemukan sukacita ketika bersama-sama tertawa dengan teman-teman. Kedamaian yang memberikan saya kesempatan untuk dapat terus mengeluarkan ide-ide yang baru setiap harinya. Ide dan cerita yang akan terus sayang tuangkan melalui tulisan dalam blog ini.

Di akhir tulisan singkat ini, saya ingin melampirkan juga sebuah lagu yang sangat menggugah hati saya. Lagu ini sering  dinyanyikan dalam ibadah GEREJA  . Ketika menyanyikannya saya begitu tersentuh akan syairnya. Sungguh kedamaian hanya di dalam Yesus saja. Sebab hanya Yesus damai yang sejati.

Kala kucari damai
 Hanya kudapat dalam Yesus
 Kala kucari ketenangan
 Hanya kutemui di dalam Yesus
 Tak satupun dapat menghiburku
 Tak seorangpun dapat menolongku
 Hanya Yesus jawaban hidupku

                                                    Reff**                     Bersama Dia hatiku damai
                                                                                     Walau dalam lembah kekelaman
                                                                                     Bersama Dia hatiku tenang
                                                                                     Walau hidup penuh tantangan
                                                                                    Tak satupun dapat menghiburku
                                                                                    Tak seorangpun dapat menolongku
                                                                                     Hanya Yesus jawaban hidupku

Tenang Bersama Tuhan



                                                   Tenang Bersama Tuhan


Dalam hidup ini seringkali kita menjumpai banyak orang yang memiliki uang yang banyak, memiliki kedudukan yang tinggi dalam pekerjaan bahkan memiliki segalanya namun mereka merasa hidupnya hampa, tidak memiliki ketenangan. Dan juga ada banyak orang yang sulit mendapatkan ketenangan dan kedamaian sebab mereka mencemaskan masa depannya, atau terkadang kita mengalami banyak masalah, persoalan yang tidak pernah berhenti sehingga kita menjadi depresi, putus asa.

Dari semua ini setiap orang senantiasa berusaha mencari ketenangan, namun semuanya sia-sia karena ketenangan hanya kita temukan di dalam Tuhan saja. Oleh sebab itu sebagai orang percaya jangan biarkan persoalan dapat kita kehilangan damai sejahtera sebab kita memiliki Tuhan yang berkuasa.  Kita dapat menjalaninya bersama Tuhan maka kita akan tetap menghadapi semua itu dengan tenang bahkan akan berkemenangan.

Dalam situasi apapun tetaplah menjalaninya bersama Tuhan karena Tuhan memiliki banyak cara dan jalan untuk menolong. Cara Tuhan berbeda dengan cara kita namun jalan Tuhan itulah yang dapat menolong kita. Bersama Tuhan kita pasti mendapat ketenangan sebab di saat kita merasa menghadapi jalan buntu, disana Tuhan dapat membuka jalan baru. Atau bahkan saat kita merasa persoalan yang kita alami begitu berat, Tuhan sanggup menolong, janganlah cemas dan tetap percaya saja kepada Tuhan.

Bersama Tuhan kita juga akan mendapatkan perlindungan dan jaminan yang kekal, sehingga kita akan terluput dari segala bahaya. Bahkan kita tidak perlu cemas dengan setiap kebutuhan kita karena Tuhan pasti akan mencukupinya. Walupun banyak persoalan yang menimpa namun saat kita dekat dengan Tuhan kita pasti dapat menghadapinya bersama Tuhan.

Dalam hidup ini selalu kita jumpai masalah, tantangan, kegagalan namun jangan pernah itu mencuri rasa ketenangan dan kedamaian kita. Hidup dalam ketenangan tidak ditentukan oleh banyaknya harta namun saat kita menjalaninya bersama Tuhan. Mari kita boleh belajar hidup tenang, supaya kita bisa melihat pertolongan Tuhan dinyatakan.

Bahkan biarlah kita senantiasa hidup dalam iman serta penyerahan kepada Tuhan dan senantiasa dekat dengan Tuhan karena dalam hidup ini tidak ada cara lain yang dapat memberikan kita ketenangan bahkan tidak ada jaminan yang dapat membuat kita menjadi tenang selain hanya di dalam Yesus saja, Dia adalah satu satunya sumber damai sejahtera kita. Ketika kita sudah menjalani hidup bersama Tuhan maka tidak ada lagi hal yang patut kita cemaskan sebab Dia memberikan kemenangan.

Mazmur 62:2-3 – “Hanya dekat Allah saja aku tenang, daripada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

Selasa, 29 Juli 2014

PESAN TERAHIR YOSUA

Pesan Terakhir Yosua

 ====================
"Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN."


 Jika hidup tengah berada di saat-saat terakhir, biasanya orang akan menyampaikan pesan yang ia anggap terpenting karena ia tidak lagi punya waktu untuk berpesan panjang-panjang. Itulah sebabnya selama masih ada kesempatan, pesan terakhir dari orang sedang menjelang ajal menjadi sangat penting untuk diingat oleh pasangan, anak-anak atau anggota keluarga terdekat lainnya. Kakek saya meninggalkan pesan secara khusus kepada saya sebelum ia jatuh koma dan kemudian meninggal beberapa jam sesudahnya. Ia meminta saya untuk menjaga kerukunan keluarga besar dari ayah saya, mengingatkan meski banyak perbedaan disana, tapi semuanya harus tetap bersatu dan rukun. Ibu saya memberi pesan terakhir agar saya tetap akur dengan adik saya. Kedua pesan terakhir ini sampai hari ini masih saya pegang teguh sebagai amanah yang tidak boleh saya langgar, apapun alasannya. Mengapa? Karena saya menganggap pesan terakhir sebagai sesuatu yang dianggap sangat penting oleh kedua orang yang sangat saya sayangi ini.

 Hari ini mari kita melihat pesan terakhir dari Yosua. Yosua punya sejarah hidup yang sangat menarik untuk disimak. Penuh warna, penuh petualangan dengan beragam pengalaman sejak masa mudanya yang akhirnya membentuk karakter Yosua secara luar biasa. Yosua pernah di utus sebagai satu dari selusin mata-mata yang dikirim untuk mengintai kondisi tanah yang dijanjikan Tuhan selama 40 hari. (Bilangan 13:8,16). Sekembalinya, ia adalah satu dari dua orang bersama Kaleb yang membawa hasil pengamatan positif, bukan berdasarkan apa yang ia lihat tapi semata-mata karena mempergunakan mata iman yang percaya kepada janji Tuhan. Ia juga pernah mengalami masa sebagai prajurit perang yang gagah berani menghadapi orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Yang tidak kalah menariknya adalah saat Yosua masih muda sebagai abdi Musa, yang mengikuti kemanapun Musa pergi selama masa perjalanan di padang gurun. Pengalaman menariknya hadir pada suatu kali ketika ia menyertai Musa untuk bertemu dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Bukan para tua-tua yang dibawa Musa ke atas, tetapi justru Yosua muda lah yang ia bawa. (Keluaran 24:12-14). Disana Yosua mengalami sebuah pengalaman yang luar biasa. Alkitab mencatat: "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (33:11). Mengapa Yosua? Saya yakin Tuhan sejak semula mempersiapkan Yosua untuk menerima tanggungjawab berat kelak menggantikan Musa. Menyaksikan kemuliaan Tuhan secara langsung seperti itu ternyata sangatlah berkesan baginya, sampai-sampai ia dikatakan tidak mau beranjak keluar dari kemah yang penuh hadirat Tuhan. Maka selanjutnya kita menyaksikan bahwa ia diangkat Tuhan untuk menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. "Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."(Ulangan 31:23).

 Petualangan yang panjang penuh pengalaman mengesankan mengisi buku sejarah hidup Yosua dengan sangat indah. Akhirnya dalam Yosua pasal 24 kita bertemu dengan Yosua di penghujung hidupnya. Saat itu ia sudah berumur lebih dari seratus tahun. Ia tahu bahwa sisa umurnya tidaklah lama lagi, maka ia menganggap bahwa saat untuk menyampaikan pesan terakhirnya pun sudah tiba. "Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah." (Yosua 24:1). Sikhem merupakan tempat yang penuh makna bagi bangsa Israel baik dalam kisah Abraham, Yakub dan sebagainya. Maka tepatlah jika sebuah tempat yang bersejarah ini dipakai oleh Yosua untuk menyampaikan pesan terakhirnya sekaligus memperbaharui perjanjian antara bangsa Israel dengan Tuhan. Melihat sepak terjang Yosua sejak masa mudanya hingga di penghujung hidup, tentu ada banyak yang bisa diceritakan oleh Yosua sebagai pesan maupun peringatan bagi bangsa Israel bagaimana mereka harus hidup setelah ia mangkat. Ada begitu banyak pesan penting yang bisa ia sampaikan, tetapi sebagaimana pentingnya sebuah pesan terakhir, Yosua mengambil sebuah kalimat yang singkat sebagai rangkuman dari sejarahnya yang sangat berharga untuk dibagikan. Pengalaman yang membawa keteladanan dirangkum dalam satu kesimpulan untuk disampaikan sebagai amanah yang harus dicamkan oleh bangsa Israel. Inilah yang dikatakan Yosua. "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN." (Yosua 24:14). Itulah bunyi pesan terakhir sebagai rangkuman atau kesimpulan dari segala pengalaman hidupnya.

 Ada tiga pesan yang ia sampaikan yaitu:
 1. Takutlah akan Tuhan,
 2. beribadahlah kepada tuhan dengan (a). tulus, (b). iklas dan (c). setia, dan
 3. jangan menyembah allah-allah lain melainkan kepada Tuhan saja.
 Tiga pesan yang teramat penting hadir sebagai peringatan yang didasarkan pada pengalaman hidupnya yang luar biasa


Dalam hidup kita akan selalu berhadapan dengan pilihan-pilihan dan akan selalu bertemu dengan saat-saat dimana kita harus mengambil keputusan demi keputusan. Tuhan sendiri tidak menciptakan kita sebagai robot-robot atau bagai boneka yang diikat dengan tali. Itu bukanlah kehendakNya, karena Dia ingin menciptakan kita menurut gambar dan rupaNya dengan kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik serta bijaksana, agar kita tampil bukan sebagai mahluk tak berjiwa tapi bisa menjadi anak-anakNya yang mampu berinteraksi secara intim denganNya. Tuhan memberikan kita kehendak bebas, dan disana jelas diperlukan kemampuan untuk mengambil keputusan-keputusan yang benar dalam setiap langkah. Apakah kita mau mendengar dan menuruti serta melakukan FirmanNya, sesuai dengan kehendakNya agar bisa menuai janji-janjiNya termasuk keselamatan yang telah Dia anugerahkan lewat Kristus atau kita memilih untuk mengabaikan semuanya dan lebih suka untuk masuk ke dalam tempat yang sangat berbanding terbalik dengan Surga yang penuh kemuliaan Tuhan.

 Keputusan yang kita ambil akan berdampak pada langkah selanjutnya. Hidup sesungguhnya merupakan rangkaian sekuens yang saling tersambung satu sama lain. Secara garis besar ada dua pilihan yang bisa kita pilih, apakah berkat atau kutuk seperti dalam Ulangan 28. Ayat 1-14 berisi janji berkat, sementara ayat 15-46 berisi kutuk. Karena semuanya sudah dituliskan dengan terperinci, pilihan mana yang akan mengarah kepada salah satunya, dan apa saja yang akan terjadi apabila kita memilih satu diantaranya, maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengatakan kita tidak tahu atau tidak peduli.

 Rangkaian kotbah terakhir Musa sebelum digantikan Yosua pun mengingatkan: "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan." (Ulangan 30:15). Lalu selanjutnya ia berpesan: "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub..." (ay 19-20). Kelak Yosua pun mengingatkan lagi soal pilihan ini. "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini." (Yosua 24:15a). Sekali lagi, life is full of choices and needs our ability to make good decisions. Tapi bagi Yosua dan keluarganya, beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Yosua mengambil pilihan itu. Itu tergambar dari seluruh perjalanan hidupnya dan itulah yang ia sampaikan sebagai kesaksiannya kepada bangsa Israel sebelum ia dipanggil Tuhan. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (ay 15b).

 Berdasarkan pengalaman hidupnya, Yosua menyampaikan kunci keberhasilan dalam menjalani hidup. Ia sudah membuktikan sendiri bagaimana iman yang percaya penuh pada Tuhan mampu membawanya satu kemenangan kepada kemenangan lain. Ia sudah menunjukkan betapa hebatnya dikala Tuhan ada bersama kita, berdiri di pihak kita. Pesan terakhir merupakan sesuatu yang dianggap terpenting untuk disampaikan, dan Yosua menyampaikan hal yang sangat penting agar kita bisa menuai keberhasilan demi keberhasilan dalam hidup kita. Takutlah akan Tuhan, beribadahlah dengan tulus, ikhlas dan setia, dan jauhilah allah-allah lain, bukan saja terhadap kuasa-kuasa kegelapan yang menawarkan berbagai hal instan yang bisa terlihat seolah menjanjikan pertolongan, tetapi juga hal-hal duniawi yang sepintas terlihat memuaskan keinginan daging tapi mengarah kepada datangnya kebinasaan bagi kita. Yosua telah menyampaikan sebuah amanah yang akan membawa kita ke dalam kemenangan hingga garis akhir, tergantung kita apakah kita mau mendengarnya atau tidak.

Pesan terakhir Yosua berisi kunci yang membawa keberhasilan dalam hidup kita

Jumat, 25 Juli 2014

RENUNGAN


         Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? (Roma 8:35) 



Ini adalah pertanyaan yang paling puncak dari kelimat pertanyaan yang diajukan oleh paulus. Pertanyaan lima ini seperti puncak dari sebuah anak tangga. Ini  adalah anak tangga yang paling tinggi.  Paulus bertanya , “siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus”?  dan setelah itu ia mencoba mencari jawaban dari sekelilingnya. Paulus memberikan contoh-contoh tentang hal-hal yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus.
Dalam ayat 35, Ada tujuh kemungkinan yang Paulus sebutkan sebagai bahaya yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, yaitu Penindasan, kesesakan , penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, pedang.  Penindasan, kesesakan , penganiayaan, merupakan ancaman yang datang dari dunia,  dari orang-orang yang membenci kekristenan.  Sedangkan kelaparan dan ketelanjangan adalah tidak adanya makanan, dan pakaian.  Orang kaya bangkrut, sampai tidak ada makanan dan pakaian, atau seseorang tidak mendapatkan pekerjaan sehingga tidak dapat membeli makanan dan pakaian, atau kegagalan dalam usaha sehingga tidak bisa mencukupi kebutuhan pokok. Semuanya itu memang merupakan ancaman bagi orang kristen.
Hal selanjutnya  yang bisa mengancam orang kristen adalah bahaya dan pedang. Bahaya apa? bahaya kecelakaan, penyakit, perampok bersenjata, teroris, dll. Daftar bahaya ini bisa diperpanjang lagi. Semuanya adalah penderitaan yang nyata-yang tidak menyenangkan, sulit untuk ditanggung, menantang iman kita. Paulus mengetahui apa yang sedang dia bicarakan karena dia sendiri mengalami hal itu dan sangat buruk sekali.  Orang-orang kristen di Roma juga mengalami penderitaan tersebut, dimana mereka dibakar dan dijadikan obor-obor untuk menerangi taman istana Nero. Namun semuanya itu pun tidak bisa memisahkan orang kristen dari kasih Kristus.
Paulus yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,  (39)   atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.
Kematian memang sangat ditakuti dan merupakan pemisah yang paling besar, namun bagi orang-orang percaya yang ada dalam Kristus, kematian bukan lagi sesuatu yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, sebaliknya, menjadi membawa kita lebih dekat kepada Kristus.  Kematian yang awalnya adalah  pemisah antara kita dengan Allah, sudah menjadi penyatu antara diri kita dengan Kristus.
Bukan hanya kematian yang tidak bisa memisahkan kita dari kasih Kristus,kehidupan pun tidak bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Hidup itu lebih kejam daripada mati. itulah sebabnya mengapa seringkali kita menyebut, kematian sebagai sebuah kelepasan atau sebagai sebuah anugerah. Hidup juga bisa membawa pemisahan. Kemiskinan bisa membawa pemisahan, status sosial juga membawa pemisahan, suku, ras juga membawa pemisahan. Jadi hidup juga dapat membawa pemisahan atas manusia. Namun hidup tidak pernah bisa memisahkan kita dari kasih Kristus
Saudara janganlah putus asa ketika menghadapi masalah, sebab masalah-masalah itu tidak bisa memisahkan saudara dari kasih Kristus.
Bahkan kita dikatakan “ lebih dari pemenang”. Agak aneh kalau kita dikatakan sebagai pemenang, karena kita digambarkan seperti domba. Domba mana bisa menjadi pemenang. Kalau singa , kita bisa terima sebagai pemenang. Atau kalau ulat, kita bisa mengatakan ulat-ulat adalah pemenang karena singa yang mati, dimakan oleh ulat, jenderal yang mati juga dimakan oleh ulat, sehingga ulat memang adalah pemenang.Kalau domba? Mana bisa sebagai pemenang. Domba adalah korban untuk dimakan, disate, di gule, atau di rica-rica. Namun paulus mengatakan “ kita atau domba-domba Allah adalah lebih dari pemenang. Jadi bukan hanya pemenang, tetapi lebih dari pemenang di dalam Kristus. Kita adalah pemenang yang super.
Kita memang tidaklah kebal terhadap pencobaan, tidak kebal terhadap tragedi. Namun kita dijanjikan kemenangan atas semua itu. Janji Allah, bukanlah bahwa pencobaan tidak akan menyerang diri kita, tetapi bahwa pencobaan tidak akan pernah memisahkan kita dari kasih Allah.
Kasih ini adalah kasih Allah yang secara luar biasa diperlihatkan di kayu salib (5:8; 8:32,37) dimana telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Keyakinan kita bukanlah terletak pada kasih kita kepada Kristus, karena kasih kita itu lemah, kecil dan terbatas. Tetapi keyakinan kita terletak di dalam kasihNya kepada kita, kasih yang tetap, setia dan selama lamanya.


Salam






Siapakah yang akan menghukum mereka? (Roma 8:33) 


Siapakah yang akan menghukum mereka?  (34)  Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?
 Suatu hari, diadakan pertemuan koruptor dari seluruh dunia. Mereka saling membanggakan kelebihan mereka dalam korupsi. Berikut percakapan mereka. Koruptor Negara C : Di negara saya, korupsi dilakukan di bawah meja.
Sebab kalo ketahuan, pasti digantung.
 Koruptor Negara N : Di negara saya, korupsi dilakukan di atas meja.
Sebab sudah bukan hal yang aneh lagi.
 Koruptor Negara A : Di negara saya, korupsi dilakukan bisa di atas meja atau di bawah meja,
tergantung kebijakan politik negara saya.
 Koruptor Negara Indonesia : Mengapa kalian segitu saja bangga?
Di negara saya, korupsi bukan hanya di atas meja atau di bawah meja,
MEJANYA PUN KAMI KORUPSI!!!!


Kalau ditanya, siapakah yang akan menghukum koruptor di Indoensia? banyak yang pengen menghukum para koruptor, KPK, saingan politiknya, dan masyarakat.
Kalau saudara ditanya, siapakah yang akan menghukummu?  Enggak ada. Saya orang kristen yang baik, tidak punya musuh.  Saya juga bukan penjahat, bukan koruptor.
Walaupun kita bukan penjahat, masih banyak orang yang ingin menghukum kita. Mereka yang iri hati ingin mencelakakan kita. Perampok, penjambret  ingin merampsa milik kita. Virus, bakteri dapat membuat kita sakit. Iblis ingin menghukum kita dengan cara mendatangkan celaka buat kita.  Orang-orang Non Kristen juga akan menuduh kita dan berkata, “dia tidak lebih baik dari saya? koq, Tuhan mengininkan dia masuk ke dalam sorga, sedangkan saya masuk ke neraka?”
Lalu apa yang menjadi penolong kita? Kristus lah yang menjadi penolong kita melalui kematianNya, kebangkitanNya, pemuliannNya, dan melalui syafaatNya. Paulus mengatakan dalam ayat 34 bahwa Kristus menjadi pembela bagi kita. Tuhan Yesus tidaklah mengabaikan kita setelah pekerjaan penebusanNya selesai. Dia masih memperhatikan diri kita, bukan hanya nanti ketika pengadilan ilahi dilaksanakan tetapi juga sekarang ini, di dunia ini. Dia menjadi perantara, atau juru syafaat bagi kita
Donald Barnhouse menjelaskan tentang Kristus yang menjadi pembela kita seperti ini:” ketika kita memiliki masalah, atau ketakutan dalam hati kita, maka ketakutan itu langsung diketahui oleh Krisus, karena ketakutan kita itu menyentuh hatiNya, ketakutan kita itu membuat Dia merasa menderita.
Jika kita mengalami kehilangan, dukacita, penderitaan, maka itu akan segera tertulis dalam hati Kristus. Mengapa bisa terjadi seperti itu? Karena Alkitab menuliskan:” KJV menerjemahkan Yes 63:9, dalam segala penderitaan mereka, Dia menderita.  Kristus merasakan segala kesusahan dan penderitaan kita. Dia adalah pembela kita yang baik dalam segala kesusahan yang kita alami. Oleh sebab itu kita tidak perlu kuatir. Dia akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus Tuhan kita.
Ada sebuah syair pendek yang berbunyi seperti ini: don’t worry be happy” Jangan kuatir, melainkan gembiralah dalam segala persoalan yang saudara sedang hadapi karena kita memiliki Kristus sebagai pembela kita dan penolong kita

 


Bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32) 


 Kita bisa yakin bahwa Allah akan menyuplai seluruh kebutuhan kita? Keyakinan itu dapat dilihat di kayu salib.   Salib itu merupakan jaminan bahwa Allah akan terus bermurah hati kepada kita dan akan melanjutkan kemurahannya tersebut, sebab Dia sudah memberikan pemberian yang paling besar, yakni AnakNya sendiri.
Octavianus Winslow mengatakan: siapakah yang menyerahkan Yesus sampai Dia mati di kayu salib? Bukan Yudas yang menyerahkan Yesus dengan tujuan dapat uang 30 keping perak., juga bukan Pilatus yang menyerahkan Yesus akrena takut dengan orang banyak, dna juga bukan pemimpin yahudi yang menyerahkan Yesus karana iri hati, Tteapi yang menyerahkan Yesus adalah Allah Bapa, karena Dia mengasihi kita. Itulah jaminan yang paling  besa rakan kemurahan Allah yang akan diberikan kepada kita. Paulus memakai argumen dari yang paling besar ke yang paling kecil. Yang paling besar adalah Kristus dan itu telah diberikan kepada kita, sehingga Paulus bertanya, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Karena Allah sudah memberikan pemberian yang paling besar, maka kita dijamin akan menerima kemurahan-demi kemurahan setiap hari dari Allah.
Seorang Guru sekolah minggu bertanya kepada murid-murid SM,  “apakah ada dari janji-janji Allah yang tidak dipenuhi oleh Allah? Jika anak-anak bisa menemukan maka akan diberikan uang oleh lause sebesar : Rp. 1 juta. Hadiahnya kurang besar. Seharusnya, diberikan janji 1 milliar, karena tidak ada janji Tuhan yang tidak akan diberikan atau digenapi, sebab seperti yang dikatakan dalam Roma 8: 32,  Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?  Kalau Allah sudah memberikan AnakNya, maka Ia akan mengaruniakan segala sesuatu kepada kita. Ayat ini merupakan Cek kosong untuk segala kebutuhan kita. Saudara cukup menuliskan di atas cek kosong itu kebutuhan saudara dan kemudian menyerahkan kepada Tuhan.
 Saudara bisa menuliskan di atas cek itu dan minta kekuatan untuk mengalahkan pencobaan, maka Allah akan memberikan kita kekuatan untuk mengalahkan pencobaan tersebut.  (1 Kor 10:13)
 Saudara bisa menuliskan di atas cek itu dan minta Dia menolongmu dalam menghadapi masalah, maka Dia akan menyertai saudara senantiasa (Mat 28:20)
 Saudara bisa menulsikan di atas cek itu kebutuhan saudara akan pekerjaan, akan keuangan, kesehatan, damai sejahtera, maka Dia akan menolong memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus. (Fil  4:19)

 Jelas sekali, bahwa kalau Allah suda memberikan Yesus Kristus, sebagai pemberian yang paling besar, maka Dia akan memberikan pemberian yang jauh lebih kecil dari itu, seperti yang dikatakan oleh John Stott: kayu salib itu membuktikan bahwa Allah itu murah hati.
 Jika seorang kaya sudah memberikan kepada saudara satu milliar, maka dia pasti tidak akan keberatan kalau saudara meminta dibayarin makan di mie acay, karena saudara hari itu ketinggalan dompet. Seperti inilah Allah kita.
 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?  Segala sesuatu adalah semua hal yang kita butuhkan untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus.

 Salam





Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (Roma 8:31) 


Calvin mengatakan bahwa ayat ini sangat penting buat kita dalam menghadapi berbagai macam pencobaan. Jika Allah tidak berada di pihak saudara, maka walaupun semua orang tersenyum kepada saudara dan bersedia membantumu, maka saudara tidak akan berhasil dalam hidupmu. Sebaliknya, walaupun semua orang menentang saudara asalkan Allah berada dipihakmu, maka tidak ada yang bisa melawan saudara. Firman Tuhan mengatakan seperti ini
Psa 23:4  Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Psa 3:6  (3-7) Aku tidak takut kepada puluhan ribu orang yang siap mengepung aku.

Calvin berkata:  Tak ada kuasa dibawah langit atau diatas langit yang dapat menahan tangan Allah.
Jika paulus hanya bertanya seperti ini: siapakah yang akan melawan kita? maka akan banyak jawaban yang muncul. sebab sangat banyak musuh yang mencoba menelakakan diri kita. Saudara perhatikan ayat 35 . Ayat 35 merupakan katalog atau kumpulan musuh-musuh yang mengancam orang-orang kristen, yakni  Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang. Orang-orang yang menganiaya dunia, dosa yang berdiam di dalam diri kita, kematian,  Iblis merupakan musuh-musuh yang mengancam orang-orang kristen.  Dunia, kedagingan, dan Iblis bersama-sama berbaris menentang orang-orang kristen dan musuh-musuh itu terlalu kuat bagi kita. Seringkali malapetaka juga adalah musuh yang mengancam diri kita. Jikalau paulus hanya menanyakan pertanyaan itu, siapakah yang akan melawan kita?  maka akan muncul banyak jawaban.
Tetapi paulus tidaklah menanyakan pertanyaan yang naif seperti itu. Inti dari pertanyaannya adalah pada kata "jika". Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Tidak setiap orang mengalami bahwa Allah ada dipihaknya, sebab terkadang Allah menentang atau melawan orang tersebut.  Banyak kali dalam perjanjian lama, Allah berkata: :"Aku akan menjadi lawanmu. (Nah 2:13; 3:5; Yer 50:31; 51:25). Kalimat-kalimat itu memang diucapkan kepada bangsa bangsa seperti Asyur,  Babel, Mesir, Tirus, Sidon dan Edom. Namun kalimat itu juga pernah diucapkan kepada bangsa Israel, umat Allah karena ketidaktaatan mereka dan karena penyembahan berhala yang mereka lakukan.  Tuhan berfirman dalam Im  26:17  “Aku sendiri akan menentang kamu, sehingga kamu akan dikalahkan oleh musuhmu, dan mereka yang membenci kamu akan menguasai kamu, dan kamu akan lari, sungguhpun tidak ada orang mengejar kamu”  Yeh 5:8  sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Lihat, Aku, ya Aku sendiri akan menjadi lawanmu dan Aku akan menjatuhkan hukuman kepadamu di hadapan bangsa-bangsa. Kalimat ini juga diucapkan melawan gembala gembala dan nabi nabi yang palsu.   Sebab itu, beginilah firman Tuhan ALLAH, oleh karena kamu mengatakan kata-kata dusta dan melihat perkara-perkara bohong, maka Aku akan menjadi lawanmu, demikianlah firman Tuhan ALLAH (Yeh 13:8).
Namun ini bukanlah dalam kasus Roma 8:31, sebab situasi dimana  paulus mengatakan kalimat ini adalah, Allah dipihak kita. Mengapa dipihak kita, karena Dia sudah menentukan, memanggil kita, membenarkan kita dan memuliakan kita.  Dalam kondisi yang seperti ini siapakah yang akan melawan kita? semua kuasa di neraka mungkin akan menentang kita, tetapi mereka tidak pernah berhasil , sebab Allah berada disisi kita.
Mengapa kalau kita disertai Tuhan, saya seringkali mengalami kesalahan dan bukan kemenangan. Kita mesti memahami apa artinya disertai Tuhan. Disertai Tuhan itu bukan berarti Tuhan mengikuti kita seperti pengawal pribadi mengikuti saudara kemana pun saudara pergi dan mengalahkan semua lawan lawanmu. Tuhan itu bukan pengawal pribadi kita yang mengikuti ke manapun kita pergi dan melindungi apa pun yang kita lakukan. Disertai oleh Tuhan adalah kita mengikuti Tuhan, bukan Tuhan mengikuti diri kita. Kalau disertai oleh Tuhan, maka kita akan mengalami kemenangan demi kemenangan

Jumat, 18 Juli 2014

MENUMBUHKAN SEMANGAT MELAYANI TUHAN







Arti Melayani Menurut Alkitab

Kata “melayani” mempunyai beberapa makna berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut:

a)   Melayani sebagai kewajiban hamba/budak dalam Mat 20:26.

Pada zaman PB, seorang budak dapat dibeli atau dijual sebagai komoditi. Seorang budak sama sekali tidak memiliki hak untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam ketaatan penuh ia hanya bisa berkata dan bertindak atas perintah tuannya tanpa bisa membantahnya. Benar-benar menjadi orang yang tak berdaya. Sebagai orang percaya, kita sekarang adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari dosa, kemudian dibentuk untuk menjadi hamba/pelayan kebenaran (Roma 6:18) dan menjadi hamba Allah (Roma 6:22).

b)   Melayani di sekitar meja makan (διακονεω: diakoneõ) dalam Luk 17:8 dan Yoh 12:2.

    Pelayan meja makan harus siap melayani orang-orang yang ikut jamuan makan, mulai dari menghidangkan makanan sampai membersihkan semuanya jika telah selesai. Pelayan harus bisa membuat semua yang dilayani merasa puas.

c)  Melayani sebagai kewajiban bawahan terhadap atasannya (υπηρετης: hupérètés) dalam Kisah 24:13.

Kita melihat sahabat-sahabat Paulus bertindak selaku hupérètés  terhadap Paulus, yaitu menolong hamba Tuhan lain agar pelayanannya menjadi lebih efektif. Seorang huperetes adalah seorang yang segera mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya dan tidak banyak bertanya tentang tugas-tugasnya. Contoh lain adalah Epafroditus yang melayani keperluan Paulus dan mengantar surat-suratnya (Filipi 2:25); Onesimus orang yang menyediakan semua kebutuhannya saat di penjara Roma (Filemon 1:10).

d)  Melayani orang banyak sebagai tanggung jawab jabatan   

    Contohnya, petugas sipil, militer dan pegawai pengadilan (Bil 11:16); pekerja Bait Allah (Yer 20:1; Kisah 13:2; Luk 12:58; Yoh 7:32; 18:12).

Setiap pelayan Tuhan bisa menjalankan keempat peran di atas, yaitu: menjadi seorang hamba atau budak Kristus (doulos); menjadi seorang pelayan yang selalu setia dan siap menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhannya (diakonos); menjadi seorang yang mungkin tidak diperhitungkan dan tidak terlihat namun pelayanannya amat penting (hupérètés); menjadi seorang yang melayani masyarakat atau jemaat sebagai petugas pemerintah atau Gereja (litourgikos). Namun peran yang menjadi dasar dari semua peran pelayan adalah menjadi hamba Kristus. Dalam Roma 6:18 dan 22 telah ditulis dengan sangat jelas bahwa seorang yang telah diselamatkan oleh Kristus otomatis dia menjadi hamba Kristus.
Yesus telah menyempurnakan dan mengembangkan arti ‘melayani’ yang sebenarnya. Dalam Matius 25:42-43 Yesus menyebutkan berbagai perbuatan seperti memberi makan, memberi minum, memberi penginapan, memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan menengok orang yang berada di penjara. Inilah maksud dan tujuan orang Kristen yang menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus, yaitu dengan cara saling mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34}, yang diwujudkan dengan bentuk pelayanan yang nyata. Yesus memberikan pandangan ini sehubungan dengan tujuan hidup-Nya sendiri bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28). Melayani di sini mempunyai makna menyediakan segala yang diperlukan manusia untuk keselamatannya.

Menjaga Konsistensi Melayani

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, pada saat itu juga sebenarnya kita harus berkomitmen untuk menjadi hamba kebenaran dan hamba Allah, yaitu menyerahkan tubuh kita menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Gal 5:13; Roma 6:18, 22; 12:1). Sebagai ‘hamba Allah’ kita tidak boleh membantah apa yang Allah perintahkan. Itu berarti kita harus memiliki konsistensi dalam melayani. Yang dibutuhkan agar kita tetap konsisten melayani adalah ‘kesetiaan’ kepada Allah sebagaimana Allah setia mengasihi kita. Kesetiaan tidak dengan sendirinya terjadi dalam hidup kita tetapi harus dilatih terus-menerus. Supaya setia kepada Allah, kita dapat mengingat hal-hal berikut:

a)     Siapakah yang kita layani?
Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar bahwa yang kita layani adalah Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi. Allah yang memelihara kita dalam kehidupan ini. Berapa banyak berkat-Nya yang telah tercurah mungkin tak akan dapat kita hitung. Masihkah kita enggan melayani Tuhan? Nabi Elia, misalnya, selalu mengatakan “Demi Tuhan yang kulayani” ketika ia menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya (1 Raja 17:1; 18:15). Rasul Paulus pun mengatakan hal yang sama (Roma 1:9).

b)     Apa tujuan kita melayani?
Tujuan utama kita melayani adalah untuk menggenapi rencana Allah bagi seluruh umat manusia dan untuk memuliakan nama-Nya.
 
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol. 3:23)
  Apa pun yang Saudara lakukan  —  Saudara makan atau Saudara minum  —  lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah. (1 Kor 10:31)
                                                                                   
Jika kita telah memahami keberadaan kita sebagai hamba Allah, maka motivasi kita untuk melayani bukan lagi berpusat pada kepentingan diri sendiri melainkan bagi kemuliaan Allah. Motivasi kita untuk melayani Tuhan dapat dijabarkan sebagai berikut:
  Motivasi Ketaatan
Ketaatan melakukan perintah Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama.
—Yesus menjawab, "Di dalam Alkitab tertulis, ‘Sembahlah Tuhan Allahmu dan layanilah Dia saja."—  (Luk 4:8)
  Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. (1 Petrus 4:10)

Motivasi Kasih
Kasih kepada sesama seperti yang diperintahkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri.
  “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:14-15)
  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Gal 5:13)

 Motivasi Keteladanan
Meneladani apa yang Tuhan Yesus lakukan saat Ia berkata bahwa Ia datang untuk melayani (Mrk 10:45). Bahkan Ia mengatakan bahwa kita dimampukan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12).

 Motivasi Misi
Menyadari bahwa kita dipilih dan diberi kuasa untuk mengerjakan misi Allah, serta mewariskan iman yang hidup itu kepada generasi yang kemudian.
  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8)
  Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.(2 Tim 2:2)

 Motivasi Zaman Akhir
Melayani sebagai tindakan berjaga-jaga untuk menyambut datangnya Kristus  yang kedua kali.
n  Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. ... Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk 12:37, 40)

Kita telah mengerti bahwa kita harus melayani dengan motivasi yang benar, namun sebagai manusia, kita pun sangat terbatas dan dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan manusiawi kita.

Pada umumnya ada tiga bentuk motivasi manusia:
Motivasi Ketakutan (Fear Motivation), yaitu motivasi karena adanya rasa takut. Orang mau melakukan sesuatu karena takut akan adanya paksaan atau tekanan dari berbagai pihak. Ia takut akan akibatnya jika ia tidak melakukan hal itu.
Motivasi Imbalan (Incentive Motivation), yaitu motivasi karena adanya imbalan (intensif). Imbalan ini bisa berupa pujian, prestise, promosi atau penghargaan.
Motivasi Sikap (Attitude Motivation), yaitu motivasi yang berhubungan erat dengan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, bukan dari luar. Bentuk ini juga disebut Motivasi Diri (Self Motivation).
Motivasi-motivasi tersebut menggambarkan sifat manusia yang cenderung berpusat pada diri sendiri. Kita sebagai orang yang telah diselamatkan oleh darah Kristus harus berjuang untuk menanggalkan segala sifat egois kita dan belajar untuk hidup berpusat pada Kristus. Untuk dapat memiliki hidup yang demikian, tidak ada jalan lain selain dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan. Hidup di dalam Kristus bukan hanya memberikan pengharapan untuk kelak menikmati kehidupan surga yang kekal, tetapi juga memberikan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan selama kita hidup di dunia. Demikian indahnya janji Tuhan bagi kita seharusnya memperteguh kesetiaan kita melayani Tuhan.

  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Menjaga Semangat Melayani

Ada tiga sumber semangat:
Semangat dari dalam diri sendiri.
Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar. Contoh Alkitab adalah Kaleb,
  Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya. (Bil 14:24)
Semangat yang timbul karena pengaruh lingkungan.
Seorang mahasiswa bersemangat mengerjakan tugas praktikumnya karena berada dalam satu kelompok dengan teman sahabatnya. Seorang atlit bersemangat latihan setiap hari karena dijanjikan hadiah yang besar jika dia menang. Contoh dalam Alkitab adalah ketika orang banyak bersemangat mengikuti Yesus. Semangat itu dipengaruhi oleh motivasi untuk menerima kesembuhan, mendapatkan makanan, dan berbagai mujizat lainnya.
 
Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.  (Mat 8:1)
Semangat dari Tuhan.
Contoh yang sangat jelas adalah semangat Rasul Paulus dalam memberitakan Injil.
  Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Kor 4:16)
  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Tim 1:7)

Sinonim kata “semangat” adalah antusias, bergairah, menaruh minat besar, bergelora hati, berkemauan yang kuat untuk terus bekerja, berjuang. Semangat sangat penting dalam membangun apa saja, baik kuliah, pelayanan, pekerjaan, meraih cita-cita, dsb. Semangat dapat memberi kita kekuatan untuk bertahan, tetap berjuang, memberi pengharapan, memperluas visi, membuka jalan keluar dari masalah. Bukan semangat biasa saja yang kita butuhkan melainkan semangat yang datang dari Tuhan dan dari hati.

Seperti yang dialami Nehemia dan kawan-kawan di dalam membangun kembali kota Yerusalem yang sudah hancur. Secara manusia sudah tidak mungkin, tetapi Tuhanlah yang memberi semangat untuk tetap maju meskipun banyak tantangan dan serangan yang mengancam nyawa Nehemia. Demikian pula dengan Paulus yang ditindas, dianiaya, difitnah tetapi tetap bertahan memberitakan Injil sampai akhir hidupnya.

Apa yang membuat orang patah semangat untuk melayani Tuhan?

Sikap apatis = tidak peduli, masa bodoh (Roma 14:23).
Serangan/pekerjaan iblis untuk melumpuhkan iman kita dengan cara mengalihkan perhatian kepada kesenangan-kesenangan sesaat/sementara. Fokus kita untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya dialihkan kepada hal-hal jasmani atau materi sehingga lupa dengan perjanjian yang disiapkan Tuhan bagi kita.
Egois, mencintai diri sendiri, memanjakan diri sendiri, mengasihani diri sendiri.
Bagaimana agar tetap semangat melayani Tuhan?
  Mengenal Allah.
Kita harus mengenal Allah  dengan jelas dan itu hanya bisa dicapai dengan komunikasi yang intensif melalui Saat Teduh, berdoa, dan membaca Alkitab setiap hari. Kita perlu mempunyai pengalaman pribadi dalam hidup bersama dengan Tuhan untuk bisa mengenal-Nya secara jelas.
Contoh dalam Alkitab: Yosua dan Kaleb sekembalinya dari tugas mengintai tanah Kanaan, mereka makin bersemangat dan bertambah yakin kepada janji Allah bahwa mereka akan merebut tanah perjanjian itu (Bil 13) karena mereka tahu dengan jelas bahwa Allah yang berjanji itu dapat dipercaya. Ketika Ia berjanji pasti digenapi. Jika kita mengenal siapa Allah yang kita layani, bahwa Ia tidak pernah salah dan tidak pernah lupa, kita akan makin bersemangat.
Memandang kepada Yesus
Yesus sudah menyelesaikan tugas-Nya menyelamatkan kita dengan mati di kayu salib. Jika kita mengingat segala pengorbanan dan penderitaan-Nya itu, masihkah kita tidak semangat melayani-Nya?
Memandang kepada kekekalan (Kol 3:1-2).
Paulus tidak tawar hati sebab ia memandang kepada kemuliaan yang akan datang (2 Kor 4:1, 6, 14). Janji kemuliaan yang akan diterima membuat Paulus tidak pernah tawar hati tapi terus bersemangat memberitakan Injil. Marilah kita belajar meneladaninya.

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Roma 12:11

Jumat, 11 Juli 2014

MENARIK KUASA DALAM IBADAH

                        

                            MENARIK KUASA DALAM IBADAH
                                           (1 Sam. 7:1-2; 2 Sam 6:9-13)


PENDAHULUAN

Tentunya setiap orang yang beribadah ke gereja, persekutuan atau komsel merindukan satu manfaat bagi dirinya.
Pengalaman tiap orang dalam hal beribadah itu berbeda.
Tuhan dari semula merindukan untuk hadir ditengah2 umatNya.
Wujud kerinduan Tuhan utk hadir ditengah2 umatNya dinyatakan secara Fisik melalui Tabut Perjanjian.


A. ARTI TABUT PERJANJIAN?

Sebuah Kotak dari kayu penaga yg didalamnya terdapat Dua Loh batu dan Tongkat Haru yg bertunas. Tabut ini tempatnya di Ruang Maha Kudus
Tabut ini adalah simbol bahwa Yahweh berada/bersama mereka –>menyatakan kehadiran Tuhan ditengah UmatNya (Tutup Pendamaiannya ada Kerubim –>Tahta Yahweh, tempat Tuhan berbicara kepada Imam Besar)
Tabut ini penting bagi orang Israel, mereka menyimpannya di Kemah Suci, spy mereka mengalami kemenangan dlm peperangannya dgn Filistin (1 Sam. 4)
Istilah Tabut Perjanjian saat ini bukan lagi secara fisik, tapi memiliki arti kehadiran Tuhan dalam ibadah kita (/= Ibadah).
Dampak kehadiran Tuhan bagi setiap orang itu berbeda dan beradanya seseorang di dalam Ibadah/ hadirat Tuhan –>itu tidak secara otomatis mendatangkan kuasa bagi bagi dirinya.
Perjalanan Tabut Perjanjian setelah dirampas oleh orang Filistin sampai dengan kembalinya ke Israel menyatakannya.
Dua kebenaran yang dpt kita ambil dari peristiwa ini. (Pribadi yg menyembah/beribadah & Perlakuan/sikap terhadap tabut/ibadah itu)
Ada 3 kemungkinan Gambaran sikap seseorang terhadap Ibadah, yaitu: (ada yg menarik kuasa Tuhan & tidak)



B. PERTAMA: PRIBADI YG BERIBADAH –>dengan melihat tiga akibat dari kehadiran Tabut Perjanjian Tuhan 1. DI DAERAH ORANG FILISTIN


Tabut Tuhan didaerah orang Filistin –>7 bulan lamanya (1 Sam. 6:1)
Tabut Tuhan mendatangkan kegemparan maut DI Asdod, Gaza, Askelon, Gat dan Ekron (1 Sam. 5:1-10) –>Orang Filistin berencana utk mengembalikan Tabut Tuhan (1 Sam. 5:11-12)
Tabut Tuhan dikembalikan (1 Sam. 6:1-8, 21)
 Arti Filistin  –> Migrant = pekerja yang mengembara
 Nb.:
Orang yg masih mendua hati (Tdk Fokus) Tuhan / Dunia –>tidak akan bisa bertahan dalam beribadah. Ibadah baginya adalah kebosanan dan siksaan tersendiri. Mereka akan buru2 menyelesaikan dan meninggalkannya, hatinya tidak ada dalam ibadah.
Orang yg tidak mengalami keindahan dlm ibadah –>dia akan cenderung “mengembalikan” Tabut Tuhan.
Mereka mau mengalami pengalaman/perubahan hidup seperti orang lain –>tapi masih dengan kondisinya saat ini (tanpa menanggalkan yg lama).
Motivasi:
-          Awalnya mereka membawa Tabut itu utk keinginannya sendiri. -          Akhirnya orang Filistin dalam mengembalikan Tabut beserta pemberian mereka –>itu adalah karena ketakutan dan untuk menerima pemulihan dari kutuk Tuhan.
Orang yg demikian meskipun beribadah namun tidak mengalami berkat dan kuasa dari Ibadahnya.


2.  DI RUMAH ABINADAB (1 Sam. 7:1-2) a. Tabut Tuhan 20 tahun lamanya di rumah Abinadab (2) –>tidak dijelaskan 

Tuhan memberkati dia dan seisi rumahnya (bahkan orang Israel kondisinya sesak, mengeluh) b. Arti Nama Abinadab
father of a vow (Bapak Yang berjanji)
father of willingness (Bapak yg berkeinginan)
my father is willing (Bapakku yang mau)
my father is generous (Bapakku murah hati, dermawan).
c. Ibadah yg menarik kuasa Tuhan itu:
Ibadah itu harus dari diri sendiri dorongan/kerinduannya (bukan orang lain: ortu, pacar,teman, dll) –>dan juga bukan ikut-ikutan orang lain.
Kerinduan/dorongan –>hendaknya keluar dari diri sendiri bukan dari orang lain (paksaan).
Tidak terpengaruh orang lain –>Ibadah/Hadirat Tuhan itu sifatnya pribadi
d. Daud berinisiatip utk memindahkan kembali ke Kota Daud (2 Sam. 6:3) –>Tabut menyimpang dan beralih ke rumah Obed Edom (di Gat)


3. DI RUMAH OBED EDOM (2 Sam 6:9-13)

a. Tabut Tuhan 3 bulan lamanya di rumah Obed Edom (11) –>dia dan seisi rumahnya diberkati.
b. Arti Nama Obed Edom (Obed dan Edom)
Obed= (1) servant (hamba), (2) worshipper (penyembah), (3) workman (pekerja)
c.  Lamanya menjadi orang Kristen tidak jaminan kalau ibadahnya berdampak bagi kehidupannya
Abinadab 20 tahun tdk merasakan kuasa ibadah, Sedangkan Obed Edom baru 3 bulan –>dia merasakan kuasanya ibadah.
d. Hal2 yang dapat menarik kuasa dari suatu ibadah adalah:
Pribadinya haruslah memiliki karakter –>seorang hamba, penyembah dan pekerja.
Nb.: Pribadi yang menyembah dia –>secara alami akan bertumbuh sebagai seorang hamba dan pekerja bagi Tuannya.
Orang yg tidak mengalami keindahan dlm ibadah –>dia akan cenderung “mengembalikan” Tabut Tuhan.
SEBALIKNYA orang yg merasakan indahnya ibadah –>dia akan berusaha utk “mengambil kembali” Tabut Tuhan (berapapun harganya).
Kristen Obed Edom memiliki Gambaran perkembangan seperti yg diwakili 3 Pribadi yang berada di “Peristiwa Narwastu”:
Nb.:
Duduk diam (Penyembah) –>sebagai titik awal, sumber dorongan dan dasar bagi Pelayanan.
Kebiasaan ini membuat orang berani memberikan/berkorban bagi Tuhan lebih lagi (Maria: suka duduk diam dibawah kaki TY/Luk. 10:39 dan dia juga yg berani memberikan minyak Narwastu yg mahal utk peringatan kematian TY/ Mark. 14)
Maria menerima sesuatu yg terbaik yg tidak akan diambil dari padanya (Luk. 10:42) DAN melakukan sesuatu yg hasilnya kekal (Mark. 14:9)


C.  KEDUA: PERLAKUAN TERHADAP TABUT PERJANJIAN TUHAN/IBADAH –>TABUT ITU HARUS DIANGKAT

1. Disediakan khusus gelang2 tempat kayu pengusung (Kel. 37:5)
2. Daud dalam usahanya yang pertama memakai cara –>seperti cara orang Filistin (2 Sam. 6:3 cf. 1 Sam. 6:7) –>gagal mengangkut Tabut Perjanjian (dgn kereta baru BUKAN diangkat)
Dalam beribadah, selain pribadi kita benar –> cara kita harus juga benar menurut Firman Tuhan.
Orang Filistin mengangkut Tabut Tuhan dengan caranya sendiri, karena mereka tidak Tahu Firman Tuhan.
Cara beribadah yg benar akan membawah dampak. Contoh: Tembok Yerikho (Yos.6) –> roboh karena apa? Pujian umat Tuhan dan Ketaatan akan cara Tuhan. Ibadah itu akan membawa apabila keseharian kita hidup dalam ketaatan dan menerapkan Cara Tuhan dalam beribadah.
Ibadah itu memberi sesuatu: Orang Filistin:  tidak dgn tangan hampa; Perintah Tuhan: Datang pada Tuhan jgn dengan tangan hampa; Daud: memberikan korban setiap melangkah.
Dengan memakai tanda keimaman (Daud sebagai Raja –> dia memakai Baju Efod, 2 Sam. 6:14) –> BUKAN tariannya yg membuat dia berhasil.
3. Daud memindahkan Tabut utk yg kedua kalinya dgn cara mengangkat (2 Sam. 6:12-13) 4. Arti kata “Diangkut”/diangkat = nasa (Ibr) = 1. lift, lift up = diangkat,  2. Exalted = ditinggikan
Hadirat Tuhan itu harus ditinggikan oleh setiap orang yg hadir –>dalam PB, dengan kematian TY: setiap kita adalah imam yang langsung dpt berhubungan dengan Tuhan tanpa melalui perantara.
Lebih mudah mendorong daripada mengangkat –>ini butuh tenaga yg lebih besar. Ketika dlm PAW suasana kurang –>maka setiap kita harus masuk dlm hadirat Tuhan sendiri tanpa memperhatikan orang lain.
Dalam mengangkat Tabut Perjanjian ini diperlukan beberapa orang –>kesatuan & kesehatian, meskipun sifatnya pribadi demi pribadi. Tapi kalau dlm ibadah bersama itu perlu kesatuan roh.


PENTUTUP

Ibadah yang berkenan kepada Bapa itu berbicara mengenai Pribadi (Ketaatan sehari-hari, kerinduan & Motivasi).dan Perlakuan kita dlm beribadah kepada Bapa (Cara: “Angkat Tabut”)
Lamanya kita percaya hendaknya membuat kita memiliki kerinduan sendiri utk menjadi penyembah dan pekerja, karena Ibadah itu tidak hanya berbicara mengenai Penyembahan melainkan juga Pekerjaan (hamba)

Ibadah itu bukan mengubah Tuhan, tapi mengubah diri kita. Karena Tuhan tidak berubah…