Kamis, 24 April 2014

TINJAUAN ALKITABIAH TENTANG ''KEPENUHAN ROH KUDUS ''


TINJAUAN ALKITABIAH TENTANG “KEPENUHAN ROH KUDUS

Subyek tentang pribadi dan karya Roh Kudus adalah hal yang menarik untuk didiskusikan. Secara khusus tentang tanda yang akan muncul ketika orang percaya dipenuhi Roh Kudus, banyak dibahas dan diperdebatkan. Ada kelompok yang menekankan jika seseorang dipenuhi Roh Kudus akan menyatakan tanda-tanda tertentu seperti : Berbahasa Roh, ekstase, bernubuat, menari, mendapat penglihatan dan tanda-dtanda heran yang lainnya. Tetapi, ada pendapat yang mengatakan bahwa kepenuhan Roh Kudus tidak ditentukan oleh tanda-tanda tersebut; orang bisa saja dipenuhi Roh Kudus tanpa harus menyatakan mainfestasi yang seperti disebut sebelumnya. Lalu, bagaimanakah sebenarnya Alkitab sendiri menjelaskan tentang hal ini? berikut akan dibahas tentang topik ini berdasarkan penelusuran teks-teks dalam Alkitab sendiri.

Siapakah Roh Kudus?
       Saksi Yehova mengganggap Roh kudus sebagai energi, kuasa, kemampuan Allah

       Alkitab mencatat jika Roh Kudus adalah Oknum yang berkepribadian
      Menyelidiki segala sesuatu (1 Kor. 2:10)
      Berpengetahuan (1 Kor. 2:11)
      Memiliki pikiran (Rm. 8:27)
      Memiliki emosi (Ef. 4:30)
      Berkehendak (Kis. 16:6)
       Roh Kudus adalah salah satu pribadi dari Allah Tunggal Tri (dari atribut-atribut-Nya: Mahatahu, Mahakuasa, Mahahadir, Kekal, Kudus, dsb).

Roh Kudus Memenuhi Orang Percaya
       Dalam Perjanjian Lama
      Kej. 41: 38-39 à “. . . Penuh dengan Roh Allah . . berakal budi dan bijaksana.”
      Kel. 31:3, 35 à “. . . Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan . . .”
      Bil 24:2-3 à “. . . maka Roh Allah menghinggapi dia. Lalu diucapkannyalah sanjaknya . . .”
      Hak 3:10 à “. . . Roh TUHAN menghinggapi dia . . .”
      1 Sam. 10:10-11 à  “. . . Roh Allah berkuasa atasnya dan Saul turut kepenuhan seperti nabi . . . Ia bernubuat.”
      1 Sam. 11:6 à “. . . maka berkuasalah Roh Allah atas dia, dan menyala-nyalalah amarahnya dengan sangat. (Memampukan Saul menjadi pemimpin)
      Hak 11: 29 à “Roh TUHAN menghinggapi Yefta”
      1 Sam 16:14 à “. . . Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul,
      1 Sam. 19:20 à “. . . Roh Allah hinggap pada orang-orang suruhan Saul, sehingga mereka pun kepenuhan seperti nabi.”
      1 Sam 19:23 à  pada dia pun hinggaplah Roh Allah, dan selama ia melanjutkan perjalanannya ia kepenuhan seperti nabi . . . Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu”
      2 Taw. 15:1 à Azarya bin Oded dihinggapi Roh Allah.
      2 Taw 24:20 à “. . . Roh Allah menguasai Zakharia,”

Kesimpulan
Dalam PL, Roh Kudus berkarya secara temporal terhadap seseorang (kata MENGHINGGAPI, MENGUASAI, MELIPUTI). Dalam PL Roh Kudus berkarya dalam bentuk :
       Memberikan akal budi & kebijaksanaan (Yusuf)
       Memberi keahlian, pengertian dan pengetahuan dalam tanggung jawab pelayanan (Pelayan Kemah Suci)
       Memberi kapasitas lebih menjadi pembebas Israel (Hakim)
       Memberi karunia bernubuat & tanda-tanda kenabian (ekstase) karena pada waktu itu belum ada Firman tertulis, jadi Firman Allah di sampaikan melalui nabi dan kemudian dibukukan.
       Dalam PB
      Luk. 22, 23, à “turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya . . . turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya.” (menyatakan secara defacto pelayanan Yesus dimulai)
      Kis. 2: 1-13 à “Ketika tiba hari Pentakosta . . . turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras . . . lidah-lidah seperti nyala api.” (Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta)
      Kis. 2: 4 à “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain,” (Memampukan para murid memberitakan Injil kpd bangsa-bangsa)
      Kis 4: 8 à “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus” (Memampukan Petrus mengatakan kebenaran kepada sidang di Yerusalem)
      Kis 4: 31 à “. . . mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.” (reaksinya memberitakan Firman)
      Luk. 6:3, 5 àdan yang penuh Roh dan hikmat . . . lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus,
       Ef. 5:18, 19 à “tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati.”
      Ef. 1:13-14 à “ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, . . .”

Kesimpulan
      Pentakosta adalah hari di mana Roh kudus dicurahkan bagi manusia ( Kis 1:8)
      Roh Kudus menjadi meterai bagi orang percaya, dengan mendiami hidup orang percaya ( 1 Kor. 3:16)
      Ketika orang dipenuhi Roh Kudus, yg terjadi adalah:
       Mulai melayani (Yesus)
       Kemampuan berbahasa lain, untuk menyampaikan Injil ke ujung bumi (Pentakosta)
       Berani dan mampu mengatakan kebenaran (Petrus, Stefanus, rasul-rasul)
       Memiliki gaya hidup memuji dan menyembah dalam Pujian, Mazmur dan nyanyian Rohani
               
Kesimpulan Akhir
Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?  Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (Mat. 7: 16, 20)
       Kepenuhan Roh Kudus bukan sekedar tanda-tanda
       Kepenuhan Roh Kudus adalah tindakan nyata sebagai buah dan bukti pendiaman Roh Kudus dalam hidup orang percaya (Melayani, menginjil, memberitakan Firman dan kebenaran, Memuji)
       Dipenuhi Roh Kudus berarti hidup yang dikontrol oleh Roh Kudus. Pikiran, perkataan, perbuatannya adalah dari dorongan Roh Kudus.
       Dipenuhi Roh Kudus adalah ketika kehendak kita diletakkan di bawah kehendak Roh Kudus.

PENUH DENGAN ROH KUDUS



                 Ciri-ciri Orang yang Dipenuhi Roh Kudus

Jika ada yang bertanya apakah ada ciri-ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus, jawabannya: ada. Ketika Roh Kudus memenuhi hidup seseorang, ada sejumlah perbedaan yang nampak baik dari perbuatan, sikap hati, perkataan, dan lain-lain.
Bagaimanakah ciri-ciri dari seseorang yang dipenuhi Roh Kudus?

#1 Menaati Roh Kudus
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang taat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Roh Kudus bukan seperti minuman soda di dalam gelas, yang bila diisi penuh akan meluap. Roh Kudus adalah Tuhan; Roh Kudus adalah Oknum. Hanya pada saat Oknum Allah menguasai oknum kita, kehendak-Nya menguasai kehendak kita, kebenaran-Nya menguasai pikiran kita, cinta kasih-Nya menguasai emosi kita. Dari situlah seluruh keberadaan kita akan dipenuhi oleh-Nya karena kita taat. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus.
Ketika Oknum Allah sudah berada di dalam kita dan menguasai diri kita, pikiran kita tidak dibunuh. Tuhan tidak akan membuat pikiran kita tidak berfungsi, sebaliknya, Dia akan memimpin kita sehingga kita menjadi berpengetahuan dan bijaksana—yaitu pengetahuan dan kebijaksanaan yang sesuai dengan firman Tuhan. Lalu, cinta kasih yang kita miliki bukan lagi hanya mencintai berdasarkan orang yang satu suku atau satu bangsa dengan kita. Kita akan dipimpin hingga kita mempunyai cinta kasih dan kebencian yang sesuai dengan emosi Tuhan. Kita akan mencintai apa yang dicintai Tuhan dan membenci apa yang dibenci-Nya. Kita tidak lagi memedulikan suku bangsa atau warna kulit orang lain. Yang kita tahu hanyalah apa yang dicintai Tuhan, itulah yang kita cintai; dan apa yang dibenci Tuhan, itulah yang kita benci. Emosi kita sinkron dengan Tuhan. Kehendak, pilihan, dan kemauan kita sesuai dengan arah pimpinan-Nya. Jadi, dipenuhi Roh Kudus adalah seluruh keberadaan kita menaati Roh Kudus yang adalah Tuhan dan Pemimpin kita.

#2 Hidup Kudus
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hidupnya telah diubah oleh pengaruh Roh Kudus dan firman, sehingga dia menjadi orang yang suka akan kekudusan. Karena dipenuhi Roh Kudus, dengan sendirinya orang tersebut tidak menyukai hal yang palsu, tidak benar, tidak suci, dan yang menyeleweng. Semua hal yang tidak beres akan dia singkirkan dari kehidupannya. Karena Roh Kudus memenuhi dirinya, maka tidak ada sesuatu yang tidak kudus yang boleh berada di dalam dirinya. Hidup suci yang dipenuhi Roh Kudus tidak dapat ditiru, diimitasikan, dipalsukan, atau dibuat-buat. Suci adalah suci. "Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah," (Matius 5:8).
Siapakah orang yang suci di antara kita? Tidak ada seorang pun yang suci di hadapan Tuhan. Tetapi pada waktu Roh Kudus memenuhi hati kita, paling tidak kita memiliki keinginan untuk menjalani hidup yang suci. Sebelum kita mencapai kualitas kesucian di dalam segala aspek, kita sudah mempunyai keinginan yang sempurna. Bila kita bersedia dibersihkan oleh Tuhan secara total dan mutlak, dan mau menyerahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kesucian kepada kita, hingga hidup kita memuliakan Dia. Mengenai keinginan yang sempurna, John Calvin pernah mengatakan : "Orang suci bukanlah orang yang tanpa dosa, melainkan orang yang mempunyai kepekaan yang tinggi terhadap dosa sekecil apapun." Sungguh suatu pernyataan yang agung!
Pada tubuh, terdapat bagian-bagian yang sangat kebal dan bagian-bagian yang sangat peka. Contohnya, bila tangan kita terkena pasir, bahkan sampai seluruh tangan pun dikotori pasir, tidak akan terjadi masalah besar. Tetapi, coba saja sedikit pasir masuk ke mata kita, tentu kita langsung mengaduh dan berusaha membersihkan pasir tersebut. Kita tidak akan tahan karena mata merupakan bagian yang sangat peka. Orang suci adalah orang yang mempunyai kepekaaan besar terhadap dosa yang sekecil apapun. Seseorang yang dipenuhi Roh Kudus itu sangat peka. Mengetahui ada sedikit ketidakberesan, ketidaksucian, atau motivasi yang sedikit kurang benar, ia akan langsung menegur. Itu disebabkan hati nurani orang tersebut tidak menginginkan adanya pemalsuan, kecurangan, penyelewengan, atau ketidakjujuran sedikitpun.
Mungkinkah manusia mencabut akan dosa sampai tidak mungkin berdosa lagi seumur hidupnya? Tidak! Kita masih mungkin berbuat dosa dan kurang suci, namun kita mempunyai keinginan untuk sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan yang suci. Itulah kesempurnaan di dalam motivasi kita, dan itulah tanda orang dipenuhi Roh Kudus.

#3 Menjunjung Tinggi Firman
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menjunjung tinggi Alkitab dan tidak akan memperdebatkannya. Ketika Alkitab sudah berbicara, dia akan berhenti.
Di tengah pemahaman yang berbeda-beda, di antara ajaran yang simpang siur, dan di antara doktrin yang berbeda-beda tekanannya, marilah kita kembali kepada Alkitab. Biarkan Alkitab yang memberikan pengertian yang seimbang dan stabil berdasarkan seluruh firman yang sudah dicetak, yang sudah diberikan kepada kita. Dengan pengertian yang harmonis itulah kita tahu bahwa semua jawaban ada dalam Alkitab. Kita akan bungkam, berhenti, dan tidak memperdebatkannya karena Alkitab adalah otoritas tertinggi.
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan firman dan segala hikmat Tuhan yang tersimpan di dalam kekayaan firman-Nya. Jadi, Roh Kudus dan firman tidak bisa dipisahkan, karena Roh Kudus adalah Roh Kebenaran. Orang yang menyebut dirinya mengabarkan kebenaran tetapi tidak menitikberatkan Roh Kudus dan pimpinan-Nya, adalah omong kosong belaka. Orang yang mengaku dirinya dipenuhi Roh Kudus, tetapi berita yang disampaikan tidak sesuai dengan firman, itu pun omong kosong. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menitikberatkan kehendak dan pimpinan Roh Kudus atas dirinya serta menyampaikan berita yang sesuai dengan Alkitab. Kedua hal ini menjadi satu. Ketika dia memberitakan, Roh mengurapi, karena itu berita yang disampaikan menjadi jelas dan sesuai dengan Alkitab.

#4 Berani Menjalankan Kehendak Allah
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang berani—tidak takut menjalankan kehendak Allah. Sebelum seseorang dipenuhi Roh Kudus, dia merasa terkejut dan takut ketika melihat penganiaya-penganiaya mendekati dirinya. Seperti murid-murid Yesus Kristus yang mengunci semua pintu karena takut. Tetapi setelah dipenuhi Roh Kudus, mereka justru membongkar pintu, membuang kunci, dan pergi ke mana saja, tanpa merisaukan apakah masih dapat pulang atau tidak.
Orang yang dipenuhi Roh Kudus mempunyai keberanian. Yang tadinya takut mati, sekarang tidak. Yang tadinya malu, sekarang tidak. Yang tadinya takut dilawan, sekarang tidak. Yang tadinya takut kehilangan pangsa pasar, sekarang tidak. Dia tahu bahwa dia sedang menjalankan kebenaran.
Di masa kejayaan, semua orang, termasuk para murid, mengikuti Yesus. Waktu kerugian datang, salib dan Alkitab dibuang. Bahkan Petrus yang biasanya "sembrono" berubah menjadi orang yang tidak berani—ia mengaku tidak mengenal Yesus. Yesus tidak menegur Petrus, tetapi memandangnya dengan pandangan yang penuh kemurahan, seolah berkata, "Ingatlah, Aku sudah tahu semua tentang hidupmu, tentang dagingmu yang lemah, karena kau belum dipenuhi Roh Kudus." Setelah dipenuhi Roh Kudus, Petrus berubah. Ketika dia ditangkap dan diancam akan dianiaya; ketika dia disuruh berhenti dan dilarang mengabarkan Injil, dia menjawab : "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah? Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Keberanian yang sekarang Petrus miliki adalah keberanian demi Injil—ia tidak lagi memperhitungkan untung rugi dan hidup mati dirinya sendiri.
Saya mengenal banyak orang Kristen yang tadinya sangat pemalu dan penakut. Tapi sekarang, tiap-tiap hari mereka membagikan traktat dan mendoakan orang sakit. Saya tahu orang seperti itu telah dipenuhi Roh Kudus. Saya percaya orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mempunyai keberanian, cinta kasih, kesungguhan untuk melayani, dan selalu siap memuliakan Allah. Meskipun dia begitu sibuk, dia tetap bisa melayani karena telah dipenuhi Roh Kudus. Oleh sebab itu, dia tidak merasa malu. Diejek pun tidak menjadi masalah baginya.

#5 Menghasilkan Buah Roh
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menghasilkan buah Roh. Menghasilkan buah Roh Kudus adalah bukti atau fakta yang tidak bisa dipalsukan. Alkitab mengatakan, "... dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Matius 7:20). Kalau sebatang pohon disebut pohon ara, tentunya tidak akan membuahkan semak duri, bukan? Bisakah kita menemukan buah ara di semak duri? Bisakah kita menemukan buah anggur di atas semak? Tidak mungkin. Semak menghasilkan semak, durian menghasilkan durian, semangka menghasilkan semangka, anggur menghasilkan anggur, tetapi semak duri tidak akan menghasilkan buah mangga. Jika Roh Kudus memenuhi seseorang, maka orang itu akan menyatakan hidup dengan etika yang baru, yaitu etika dari Roh Kudus. Hal ini tidak bisa dipalsukan. Bukan saja demikian, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang penuh dengan cinta kasih Allah. Dengan cinta kasih yang memenuhi hatinya itulah dia tahu bagaimana membagi-bagikan anugerah surgawi, anugerah untuk hidup di dunia, dan anugerah yang cukup untuk tiap-tiap hari kepada orang lain.
Orang yang dipenuhi Roh Kudus, tidak akan melalui hidupnya dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Roh Kudus akan menolong dia meninggalkan hidup yang berpusat pada diri sendiri dan menerima hidup yang berpusat pada kemuliaan Tuhan. Roh Kudus tidak akan memperbolehkan seseorang hidup bagi dirinya sendiri, karena kasih Kristus akan mendorongnya, sehingga dia mau hidup bagi Dia yang sudah mati dan bangkit baginya. Siapakah yang melakukan hal itu? Roh Kudus. Paulus di dalam Filipi 2:13 berkata, "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Allah yang bekerja di dalam diri kita adalah Allah Oknum ketiga Tritunggal, Roh Kudus. Dia berada dalam diri seseorang dan membuat cinta kasih yang tadinya tidak mungkin kita miliki, menjadi mungkin. Kasih memenuhi hati kita. Bukan saja demikian, Roma 5:5-6 mengatakan bahwa pada waktu kita berada dalam sengsara dan penderitaan, Roh Kudus mencurahkan sesuatu secara merata dalam hati kita. Apa yang dicurahkan? Cinta kasih Allah. Ketika Roh memenuhi seseorang, maka cinta kasih Allah akan memenuhi hatinya. Tatkala Roh memenuhi seseorang, dia tidak akan digoyahkan oleh penderitaan, siksaan, sengsara, kematian, dan kesulitan duniawi karena cinta kasih Allah dicurahkan merata di dalam hatinya. Dengan cinta kasih itulah dia mengatasi segala penderitaan dan kesulitan.

Itulah ciri-ciri orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Alkitab memberikan prinsip-prinsip yang jauh berbeda dari apa yang sering dikumandangkan pada zaman ini. Hendaknya kita lebih waspada dan cermat menguji setiap roh, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran yang tidak benar.

PENUH DENGAN ROH KUDUS

 

Kis 2:1-4 - “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”.

Ef 5:18 - “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh”.


I) Penuh Roh Kudus berbeda dengan dibaptis Roh Kudus.


1)  Baptisan Roh Kudus adalah penerimaan Roh Kudus.

Ini hanya terjadi sekali saja, karena sekali Roh Kudus itu masuk, Ia tidak akan keluar selama-lamanya.

Dalam Yoh 14:16 Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.

Tetapi kepenuhan Roh Kudus bisa terjadi berulang-ulang. Ini terlihat dari fakta Kitab Suci bahwa Petrus mengalami kepenuhan Roh Kudus berulang-ulang (Kis 2:4  Kis 4:8  Kis 4:31).

2)  Baptisan Roh Kudus terjadi pada saat percaya (Kis 2:38  Ef 1:13), kepenuhan Roh Kudus belum tentu terjadi pada saat percaya.

Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”.

Kata-kata ‘karunia Roh Kudus’ tidak berarti ‘karunia dari Roh Kudus’, tetapi ‘karunia berupa Roh Kudus’.

Ef 1:13 - “Di dalam Dia kamu juga - karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu - di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu”.

Memang dalam Kis 2:4 orang-orang yang menerima baptisan Roh Kudus itu langsung dipenuhi dengan Roh Kudus. Tetapi tidak selalu terjadi seperti itu.

Jaman sekarang dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik, orang-orang mencari baptisan Roh Kudus. Tetapi Kitab Suci tidak pernah memerintahkan kita untuk mencai baptisan Roh Kudus, atau memerintahkanh kita untuk dibaptis Roh Kudus. Kitab Suci hanya memerintahkan kita untuk percaya kepada Yesus Kristus. Mengapa? Karena kalau kita percaya kepada Yesus Kristus, maka kita pasti akan dibaptis Roh Kudus / menerima Roh Kudus. Tak perlu dicari lagi!


II) Penuh Roh Kudus dan mabuk anggur.


Persamaan antara penuh Roh Kudus dan mabuk oleh anggur: sama-sama dipengaruhi (under the influence).

Perbedaannya: kalau penuh Roh Kudus ada ‘self-control’ (= penguasaan diri); sedangkan kalau mabuk justru kehilangan penguasaan diri. Perhatikan kata-kata ‘anggur menimbulkan hawa nafsu’. Banyak gadis yang kehilangan kegadisannya karena pengaruh minuman keras. Banyak orang yang dalam keadaan mabuk melakukan hal-hal, yang dalam keadaan waras pasti tidak dilakukannya. Jadi orang kehilangan penguasaan dirinya kalau sedang mabuk. Tetapi orang yang penuh dengan Roh Kudus pasti justru menunjukkan buah Roh Kudus, dan ini antara lain adalah penguasaan diri.

Dalam Kis 2 orang-orang penuh Roh Kudus dan lalu berbahasa Roh.

Kis 2:13 - “Tetapi orang lain menyindir: ‘Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.’”.

Mereka dikatai sebagai mabuk anggur, tetapi ini hanya ‘menyindir’. NIV: ‘made fun of them’ (= mempermainkan mereka); NASB: ‘mocking’ (= mengejek).

Kis 2:14-15 - “Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: ‘Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan”.

Dalam Kis 2:14-15 Petrus menyangkal tuduhan mabuk itu. Jadi jelas bahwa ‘mabuk’ berbeda dengan ‘penuh Roh Kudus’.

Tetapi ‘orang-orang yang mengaku penuh Roh Kudus’ pada jaman ini seperti ‘orang mabuk’. Misalnya: nggeblak, berguling-guling di lantai, histeris, tertawa terbahak-bahak dan sebagainya.

Tetapi bdk. 1Kor 14:23 - “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?.

Mengapa Paulus mengatakan seperti ini? Apakah memang kalau orang-orang kristen berbahasa roh mereka terlihat seperti orang gila? Saya berpendapat: kalau bahasa Rohnya benar, seperti dalam Kis 2, maka tidak demikian. Tetapi bahasa Roh dari orang-orang Kristen di Korintus sama seperti bahasa Roh jaman sekarang. Yang ini memang terlihat seperti orang gila / mabuk!


III) Penuh Roh Kudus dan bahasa Roh


Kebanyakan orang Kharismatik menganggap bahwa semua orang kristen yang dibaptis Roh Kudus, apalagi yang penuh Roh Kudus, pasti berbicara dalam bahasa Roh.

Dasar Kitab Suci yang sering dipakai adalah Kis 2:1-4 - “(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya”.

Dalam menafsirkan bagian ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1)  Dalam Kitab Suci ada bagian yang bersifat Descriptive dan Didactic.

a)  Bagian Kitab Suci yang bersifat Descriptive (= bersifat menggambarkan).

Bagian yang bersifat Descriptive adalah bagian yang berupa cerita yang terjadi sungguh-sungguh dan bersifat menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu. Ini tidak boleh dipakai sebagai rumus / hukum / norma!

Illustrasi: Dalam hal ini, membaca dan menafsirkan Kitab Suci mempunyai persamaan dengan membaca dan menafsirkan surat kabar. Kalau saudara membaca surat kabar, dan di sana diceritakan tentang adanya orang yang terkena serangan jantung pada waktu nonton TV, maka hal ini tentu bukan norma / hukum. Cerita ini tentu tidak boleh ditafsirkan seakan-akan semua orang yang nonton TV pasti terkena serangan jantung. Juga kalau di surat kabar diceritakan adanya satu keluarga yang piknik ke Tretes dan lalu mengalami kecelakaan, sehingga mati semua. Ini tentu tidak boleh ditafsirkan seakan-akan semua orang yang piknik sekeluarga akan mengalami kecelakaan dan mati semua.

Contoh:

·        Kel 14, yang menceritakan peristiwa dimana Allah membelah Laut Teberau sehingga bangsa Israel bisa menyeberang di tanah kering, adalah suatu bagian yang bersifat Descriptive (menggambarkan apa yang terjadi pada saat itu). Ini bukan rumus / norma / hukum, artinya, kita tidak diperintahkan untuk menyeberangi laut dengan cara seperti itu!

·        Yos 6 yang menceritakan robohnya tembok Yerikho setelah dikelilingi selama 7 hari juga merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan hukum / norma dalam peperangan.

·        Kel 16:13-16 yang menceritakan pemberian manna kepada bangsa Israel di padang gurun, jelas juga merupakan bagian yang bersifat Descriptive, sehingga tidak boleh dijadikan sebagai rumus / norma dalam kehidupan orang kristen di padang gurun.

b)  Bagian Kitab Suci yang bersifat Didactic (= bersifat pengajaran).

Bagian yang bersifat Didactic adalah bagian yang bersifat pengajaran (Yunani: DIDACHE), dan bisa berbentuk suatu pernyataan, janji, perintah atau larangan. Ini adalah rumus / hukum / norma bagi kita.

Contoh:

·        Kis 16:31 yang berbunyi “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat” adalah bagian yang bersifat Didactic. Karena itu, ini merupakan hukum / norma, artinya setiap orang yang percaya kepada Yesus pasti selamat.

·        Fil 4:4 yang berbunyi “Bersukacitalah senantiasa” adalah bagian yang bersifat Didactic. Ini adalah hukum / norma bagi kita, yang menyuruh kita bersukacita senantiasa.

·        10 Hukum Tuhan dalam Kel 20:3-17 merupakan bagian yang bersifat Didactic, sehingga merupakan Hukum / Norma bagi kita semua.

Jadi, pada waktu mendengar suatu khotbah / ajaran, telitilah apakah text yang dipakai sebagai dasar itu adalah text yang bersifat descriptive atau didactic! Ini bisa menghindarkan saudara dari ajaran-ajaran yang salah / sesat!

Jaman sekarang, khususnya dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik, karena kurangnya / tidak adanya pengertian tentang Hermeneutics, yang menyebabkan mereka tidak membedakan antara bagian yang bersifat Descriptive dan bagian yang bersifat Didactic, maka ada banyak pengajaran salah yang ditimbulkan karena mereka menggunakan bagian yang bersifat descriptive sebagai rumus / hukum / norma, seolah-olah itu adalah bagian yang bersifat didactic.

Kis 2:1-4 menceritakan apa yang terjadi pada hari Pentakosta dimana rasul-rasul kepenuhan Roh Kudus lalu berbahasa Roh / lidah. Ini adalah bagian yang bersifat Descriptive, tetapi banyak orang yang lalu menjadikan hal ini sebagai rumus / hukum / norma dan mereka mengajar bahwa orang yang menerima / dipenuhi Roh Kudus harus berbahasa Roh / lidah. Ini jelas salah, karena mereka menggunakan bagian yang bersfat descriptive sebagai rumus / norma, seakan-akan itu adalah bagian yang bersifat didactic.

2)  Ajaran tersebut tidak konsekwen karena mereka mengharuskan bahasa Rohnya saja, tetapi tidak mengharuskan adanya tiupan angin yang keras dan lidah-lidah api, yang jelas juga ada dalam bacaan itu (Kis 2:2-3). Memang bahasa rohnya gampang dipalsukan, tetapi tiupan angin dan lidah api sukar / tidak dapat dipalsukan!

3)  Ayat Kitab Suci tak boleh ditafsirkan sehingga bertentangan dengan ayat Kitab Suci yang lain. Kalau Kis 2:1-4 ditafsirkan bahwa semua orang Kristen harus berbahasa roh, maka itu bertentangan dengan 1Kor 12:7-11,28-30.

1Kor 12:7-11,28-30 - “(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. ... (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?.

1Kor 12:7-11,28-30 ini bersifat didactic dan mengajarkan bahwa hanya sebagian orang kristen yang menerima karunia bahasa Roh. Karena 1Kor 12:7-11,28-30 bersifat didactic maka bagian inilah yang harus dianggap sebagai norma / hukum / rumus!


IV) Hendaklah kamu penuh dengan Roh Kudus.


1)  Kata-kata ini merupakan suatu perintah!

2)  Kata perintah itu ada dalam bentuk jamak.

Jadi ini ditujukan kepada semua orang Kristen, bukan orang Kristen tertentu saja. Juga kepenuhan Roh Kudus tersedia bagi semua orang Kristen.

3)  Kata perintah itu ada dalam bentuk pasif.

Jadi Roh Kudus yang memenuhi, kita dipenuhi. Ini tidak berarti bahwa kita harus diam saja (pasif). Kita harus taat Firman Tuhan / membuang dosa, maka Roh Kudus akan memenuhi kita.

Ilustrasi: saya jadi tamu di rumah saudara. Saudara hanya ijinkan saya di ruang tamu, atau serahkan kekuasaan atas seluruh rumah kepada saya.

Bagaimana kalau saudara suatu saat berbuat dosa dengan sengaja? Kepenuhannya berkurang. Tetapi apakah Roh Kudus keluar lagi dari diri saudara? Ada orang-orang yang mengajar demikian. Sehingga kita harus mengundang Yesus lagi, lalu Roh Kudus masuk lagi dan sebagainya.

Tetapi di atas saya sudah menunjukkan bahwa itu tidak mungkin. Roh Kudus diberikan satu kali untuk selama-lamanya.

Dalam Yoh 14:16 Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.

Ibr 13:5 - “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.

Di atas kayu salib Yesus sudah terpisah dari BapaNya, yaitu pada saat Ia berteriak ‘AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ (Mat 27:46). Ini menyebabkan, kalau kita percaya kepada Dia, kita didamaikan dengan Allah (Ro 5:1), dan kita tidak mungkin bisa pisah dengan Allah lagi.

Ro 5:1 - “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus”.

Jadi kalau kita dosa, kepenuhan Roh Kudus bisa berkurang, tetapi Roh Kudus tidak keluar dari diri kita. Yang harus dilakukan hanyalah bertobat dari dosa, maka Roh Kudus akan kembali memenuhi kita.

4)  Kata perintah ini ada dalam bentuk present.

Dalam bahasa Yunani ada 2 macam kata perintah:

·         ( kata perintah bentuk lampau).

Ini digunakan bila orang yang memerintah itu menginginkan perintahnya dilakukan satu kali saja. Contoh: kata ‘percayalah’ dalam Kis 16:31, kata ‘bertobatlah’ dan ‘hendaklah kamu memberi dirimu dibaptis’ dalam Kis 2:38.

·         ( kata perintah bentuk present).

Ini digunakan bila orang yang memerintah itu menginginkan perintahnya dilakukan terus menerus. Contohnya adalah perintah untuk dipenuhi oleh Roh Kudus dalam Ef 5:18b.

Jadi, berusahalah untuk terus menerus taat kepada Tuhan, supaya saudara terus dipenuhi dengan Roh Kudus.

TUHAN AKAN GENAPI SETIAP JANJINYA


Kitab Kejadian menceritakan ada dua orang yang berusaha membantu Tuhan menggenapi Janji Firman-Nya atas mereka. Sehingga karena perbuatan mereka, kita merasakan dampak negatif/efek samping perbuatan mereka sampai sekarang.

Satu hal yang harus kita ketahui bahwa jika FirmanNya berisi sebuah Janji Rencana Allah yang Kekal dan tidak ada syarat/ perintah yang harus dilakukan oleh kita, maka FirmanNya tidak mungkin tidak terjadi. Jangan membantu Tuhan menggenapi JanjiNya yang sampai detik-detik terakhir belum ada tanda digenapinya Janji itu. Bagian kita adalah percaya dan mengingatkan Dia. Ketika kita mencampuri urusa Tuhan dengan kelancangan hikmat kita, maka ada akibat atau efek samping yang harus kita terima bahkan mungkin sampai seluruh keturunan jasmani ataupun keturunan rohani kita.  

Sara dan Abraham, suaminya
Kejadian 16:1-3. Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya. Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.

Janji Tuhan dalam jangka pendek adalah Abraham akan mempunyai anak kandung, tetapi Sarai beranggapan bahwa anak itu bukan berasal dari Abraham dan dirinya, karena dia mandul (Kejadian 11:30). Menghadapi Janji Tuhan yang mustahil, Sarai mulai berpikir dengan hikmatnya untuk membantu Tuhan. Dia izinkan Abraham mempunyai anak dari Hagar, hambanya.

Mengapa Hagar ada? Oleh karena Abraham terlalu lama tinggal di Kanaan(10 tahun). Di Kanaan yang makmur, Abraham dan Sarai tidak bertanya apa yang harus mereka lakukan di sana. Mereka menunda-nunda menaati perintah Allah untuk tetap berjalan dan malah mengambil Hagar untuk turut menyertai dalam perjalanan mereka (Kejadian 12:1-6). Jika Tuhan memerintahkan sesuatu dengan jelas, tanya Tuhan bagaimana caranya dan segera lakukan, jangan tunda-tunda.

Mengapa Abraham mengiyakan istrinya untuk memiliki anak dari Hagar?
Di Kejadian 15:4 TUHAN berkata bahwa yang menjadi ahli waris kekayaan Abraham adalah anak kandung Abraham. Saat itu, Abraham memang tidak tahu bahwa ia akan mempunyai anak dengan siapa. Jawaban Sarai adalah jawaban yang paling masuk akal baginya, karena Sarai tidak bisa menurunkan keturunan bagi Abraham. Hikmat manusia sangat liar dan berbahaya jika tidak disertai dengan arahan dan koreksi dari Tuhan. Abraham tidak berdoa saat itu dan bertanya kepada Tuhan tentang solusi/ jalan keluar yang diberikan Sarai.

Hasilnya, Ismael dilahirkan dari Hagar. Tuhan tetap mengasihi Ismael, namun Ishaklah yang dipilih Tuhan dalam RencanaNya yang mula. Karena Ismael adalah anak kandung Abraham, maka Tuhan memberkati Ismael juga sebagai bangsa yang besar sampai sekarang. Namun perselisihan antara keturunan Ishak dan keturunan Ismael terjadi saat itu sampai sekarang. Dua keturunan itu saling menyatakan sampai sekarang bahwa merekalah ahli waris Abraham, orang pilihan Tuhan Allah.

Akhirnya kedua kalinya, setelah Ismael lahir, Tuhan menyatakan JanjiNya dengan lebih terperinci di Kejadian 17:15-21. Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya."  Lalu tertunduklah Abraham dan tertawa serta berkata dalam hatinya: "Mungkinkah bagi seorang yang berumur seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" Dan Abraham berkata kepada Allah: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!" Tetapi Allah berfirman: "Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya. Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.  Tetapi perjanjian-Ku akan Kuadakan dengan Ishak, yang akan dilahirkan Sara bagimu tahun yang akan datang pada waktu seperti ini juga." Firman Tuhan kali ini datangnya lebih jelas dan terperinci bahwa ternyata dari benih Sarai dan Abrahamlah, Janji Allah digenapi nantinya. Percaya, bersabar dan mengingatkan Dia adalah kunci utama sampai Tuhan lebih detil lagi menjelaskan apa yang Dia firmankan sebelumnya.

Dari hal ini, Abraham mendapat pelajaran sangat berharga bahwa janganlah menunda-nunda mengerjakan perintah Tuhan, namun janganlah tergesa-gesa mengerjakan dan menggenapi JanjiNya. Ini adalah dua hal yang berbeda sekali. Oleh karena Abraham menunda-nunda mengerjakan perintah Tuhan dan tinggal nyaman terlalu enak di Kanaan, Hagar ada. Sebaliknya oleh karena mereka tergesa-gesa berusaha menggenapi JanjiNya, Ismael ada. Dari pelajaran yang berharga itulah, saat Tuhan memintanya untuk mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran, ia dengan taat dan percaya mau melakukannya (Kejadian 22:1-10, Ibrani 11:17-19). Itulah sebabnya dia disebut bapa dari sgala orang beriman.


Ribka dan Yakub, anaknya

Kejadian 25:21-23 Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: "Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?" Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. Firman TUHAN kepadanya (kepada Ribka): "Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.

Sama halnya dengan Sara, ibu mertuanya,  Ribka pun mandul. Karena doa Ishak, Ribka pun bisa memiliki dua anak kembar. Namun pada Ribkalah, Tuhan berfirman bahwa Esau, anak yang tua menjadi hamba dari adiknya, Yakub. Ishak tidak mengetahui tentang Firman Tuhan itu.

Kejadian 25:29-34 Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. Kata Esau kepada Yakub: "Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah." Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. Tetapi kata Yakub: "Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu." Sahut Esau: "Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?" Kata Yakub: "Bersumpahlah dahulu kepadaku." Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Kelihatannya Ribka sering berkata kepada Yakub, bahwa ada suatu rencana Allah yang besar baginya dan mengajarkan apa arti dari sebuah hak kesulungan. Motivasi Yakub tidak murni dan tidak benar saat itu, sehingga saat kesempatan tiba, ia mengadakan penawaran yang jahat kepada Esau untuk menukarkan hak kesulungan Esau dengan sepiring kacang merah. Esau dekat kepada ayahnya, namun bukan berarti memiliki nilai-nilai rohani ayahnya. Ia tidak tahu betapa pentingnya sebuah hak kesulungan, yang artinya hak utama mendapatkan warisan harta, warisan berkat rohani ayahnya dan warisan berkat Abraham. Ia menilai hak kesulungan dengan kepuasan sementara dari sepiring kacang merah. Tuhan sudah mencatat sumpah Esau atas peralihan hak kesulungan kepada Yakub. Agaknya Ribka sudah mengetahui apa yang dilakukan Yakub itu, dilihat dari kedekatan komunikasi ibu-anak antara dia dan Yakub.

Suatu ketika pula di Kejadian 27:1-5. Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." . .. Lihat, aku sudah tua, aku tidak tahu bila hari kematianku. Maka sekarang, ambillah senjatamu, tabung panah dan busurmu, pergilah ke padang dan burulah bagiku seekor binatang; olahlah bagiku makanan yang enak, seperti yang kugemari, sesudah itu bawalah kepadaku, supaya kumakan, agar aku memberkati engkau, sebelum aku mati." Tetapi Ribka mendengarkannya, ketika Ishak berkata kepada Esau, anaknya . . . Ishak mau memberkati Esau, karena Ishak sudah lanjut usia. Hal ini terdengar oleh Ribka. Ribka tahu bahwa yang dapat melegalkan/ mengesahkan hukum berkat kesulungan kepada generasi berikutnya adalah pernyataan ucapan dan penumpangan tangan berkat dari generasi sebelumnya, dan hal ini adalah perkataan dan tumpangan tangan berkat dari Ishak kepada Yakub; walaupun secara roh, hak kesulungan sudah berpindah kepada Yakub. Saat itu, seakan-akan Tuhan tidak bertindak sesuatu atas apa yang pernah dijanjikan Tuhan kepada Ribka dan saat itu keadaan sangat mendesak. Dalam benaknya, mungkin Tuhanlah yang mengharapkan mereka untuk bertindak pertama kali. Maka dari itu, ia membantu Tuhan dengan mengakali Ishak yang matanya telah kabur. Bahkan ia rela menanggung kutuk yang diucapkan Ishak jika Ishak mengetahui apa yang mereka rancangkan ( Kejadian 27:6-17). Akhirnya rencana mereka berhasil, Yakub yang berpura-pura menjadi Esau akhirnya diberkati. Yang harus diketahui saat itu, Tuhan belum menyatakan bahwa dusta dan berbohong sebagai laranganNya. Larangan berdusta dinyatakan Tuhan pertama kali saat di zaman Hukum Musa.

Hasilnya, Esau dendam kepada Yakub bahkan ingin membunuhnya (Kejadian 27:41). Sehingga sampai-sampai Yakub takut sekali bertemu Esau kembali (Kejadian 32). Membantu Tuhan sangat beresiko untuk menyakiti orang lain, membuat rusak gambar diri, hilangnya damai sejahtra bahkan merusak rencana Allah yang semula. 

Hukum yang berlaku adalah siapa yang telah diberkati, maka berkat tidak bisa dibatalkan dan dia akan tetap sebagai orang yang diberkati( Kejadian 27:33). Saat Esau memberitahukan bahwa hak kesulungannya yang telah diambil oleh Yakub, agaknya Ishak mulai menyadari ada misteri ilahi yang tidak dia ketahui, sehingga ia tidak bisa marah kepada Yakub, ia memberkati kepergian Yakub dan menyarankan mengambil istri dari kaum keluarganya saja. (Kejadian 28:1-5, Ibrani 11:20)

Sering diperkatakan oleh Hamba-hamba Tuhan bahwa Zaman ini adalah masa percepatan atas kegerakan Tuhan, namun bukan berarti kitalah yang mempercepat kegerakan Tuhan dengan hikmat manusia. Itu salah besar, itu berarti kita seperti melahirkan "Ismael-ismael" rohani dalam hidup kita. Peran Roh Kuduslah yang mempercepat kegerakan Tuhan. Kadang juga sampai di akhir-akhir penantian, tidak ada tanda penggenapan bahkan malah kenyataannya berbalik, kitalah yang berusaha membantu Tuhan supaya JanjiNya atas kita tetap bisa digenapi. Itu salah besar. Berhati-hatilah dalam meresponi Firman Tuhan. Jika itu sebuah perintah, lakukan dengan segera, jangan menundanya, karena seketika kita berlama-lama, kita bisa-bisa membawa "Hagar" dalam hidup kita; Namun jika itu sebuah janji, percayalah, nantikan Dia, Ingatkan Dia, persiapkan diri kita, perlebar kapasitas kita untuk menerima penggenapan Janji Tuhan itu.

Jadi  kita harus senantiasa berjaga-jaga lebih, mempersiapkan diri lebih sungguh lagi, mau dibentuk dan diasah lebih lagi karena tidak lama lagi Tuhan akan memakai kita; namun kita harus layak dipakaiNya.