Jumat, 18 Juli 2014

MENUMBUHKAN SEMANGAT MELAYANI TUHAN







Arti Melayani Menurut Alkitab

Kata “melayani” mempunyai beberapa makna berdasarkan ayat-ayat sebagai berikut:

a)   Melayani sebagai kewajiban hamba/budak dalam Mat 20:26.

Pada zaman PB, seorang budak dapat dibeli atau dijual sebagai komoditi. Seorang budak sama sekali tidak memiliki hak untuk kepentingan dirinya sendiri. Dalam ketaatan penuh ia hanya bisa berkata dan bertindak atas perintah tuannya tanpa bisa membantahnya. Benar-benar menjadi orang yang tak berdaya. Sebagai orang percaya, kita sekarang adalah orang-orang yang telah dimerdekakan dari dosa, kemudian dibentuk untuk menjadi hamba/pelayan kebenaran (Roma 6:18) dan menjadi hamba Allah (Roma 6:22).

b)   Melayani di sekitar meja makan (διακονεω: diakoneõ) dalam Luk 17:8 dan Yoh 12:2.

    Pelayan meja makan harus siap melayani orang-orang yang ikut jamuan makan, mulai dari menghidangkan makanan sampai membersihkan semuanya jika telah selesai. Pelayan harus bisa membuat semua yang dilayani merasa puas.

c)  Melayani sebagai kewajiban bawahan terhadap atasannya (υπηρετης: hupérètés) dalam Kisah 24:13.

Kita melihat sahabat-sahabat Paulus bertindak selaku hupérètés  terhadap Paulus, yaitu menolong hamba Tuhan lain agar pelayanannya menjadi lebih efektif. Seorang huperetes adalah seorang yang segera mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya dan tidak banyak bertanya tentang tugas-tugasnya. Contoh lain adalah Epafroditus yang melayani keperluan Paulus dan mengantar surat-suratnya (Filipi 2:25); Onesimus orang yang menyediakan semua kebutuhannya saat di penjara Roma (Filemon 1:10).

d)  Melayani orang banyak sebagai tanggung jawab jabatan   

    Contohnya, petugas sipil, militer dan pegawai pengadilan (Bil 11:16); pekerja Bait Allah (Yer 20:1; Kisah 13:2; Luk 12:58; Yoh 7:32; 18:12).

Setiap pelayan Tuhan bisa menjalankan keempat peran di atas, yaitu: menjadi seorang hamba atau budak Kristus (doulos); menjadi seorang pelayan yang selalu setia dan siap menolong orang lain dalam memenuhi kebutuhannya (diakonos); menjadi seorang yang mungkin tidak diperhitungkan dan tidak terlihat namun pelayanannya amat penting (hupérètés); menjadi seorang yang melayani masyarakat atau jemaat sebagai petugas pemerintah atau Gereja (litourgikos). Namun peran yang menjadi dasar dari semua peran pelayan adalah menjadi hamba Kristus. Dalam Roma 6:18 dan 22 telah ditulis dengan sangat jelas bahwa seorang yang telah diselamatkan oleh Kristus otomatis dia menjadi hamba Kristus.
Yesus telah menyempurnakan dan mengembangkan arti ‘melayani’ yang sebenarnya. Dalam Matius 25:42-43 Yesus menyebutkan berbagai perbuatan seperti memberi makan, memberi minum, memberi penginapan, memberi pakaian, mengunjungi orang sakit dan menengok orang yang berada di penjara. Inilah maksud dan tujuan orang Kristen yang menggambarkan bagaimana caranya mengikut Kristus, yaitu dengan cara saling mengasihi sebagaimana Kristus mengasihi murid-murid-Nya (Yohanes 13:34}, yang diwujudkan dengan bentuk pelayanan yang nyata. Yesus memberikan pandangan ini sehubungan dengan tujuan hidup-Nya sendiri bahwa Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Matius 20:28). Melayani di sini mempunyai makna menyediakan segala yang diperlukan manusia untuk keselamatannya.

Menjaga Konsistensi Melayani

Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, pada saat itu juga sebenarnya kita harus berkomitmen untuk menjadi hamba kebenaran dan hamba Allah, yaitu menyerahkan tubuh kita menjadi persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan kepada Allah (Gal 5:13; Roma 6:18, 22; 12:1). Sebagai ‘hamba Allah’ kita tidak boleh membantah apa yang Allah perintahkan. Itu berarti kita harus memiliki konsistensi dalam melayani. Yang dibutuhkan agar kita tetap konsisten melayani adalah ‘kesetiaan’ kepada Allah sebagaimana Allah setia mengasihi kita. Kesetiaan tidak dengan sendirinya terjadi dalam hidup kita tetapi harus dilatih terus-menerus. Supaya setia kepada Allah, kita dapat mengingat hal-hal berikut:

a)     Siapakah yang kita layani?
Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar bahwa yang kita layani adalah Tuhan, Allah Pencipta langit dan bumi. Allah yang memelihara kita dalam kehidupan ini. Berapa banyak berkat-Nya yang telah tercurah mungkin tak akan dapat kita hitung. Masihkah kita enggan melayani Tuhan? Nabi Elia, misalnya, selalu mengatakan “Demi Tuhan yang kulayani” ketika ia menyampaikan firman Tuhan kepada umat-Nya (1 Raja 17:1; 18:15). Rasul Paulus pun mengatakan hal yang sama (Roma 1:9).

b)     Apa tujuan kita melayani?
Tujuan utama kita melayani adalah untuk menggenapi rencana Allah bagi seluruh umat manusia dan untuk memuliakan nama-Nya.
 
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. (Kol. 3:23)
  Apa pun yang Saudara lakukan  —  Saudara makan atau Saudara minum  —  lakukanlah semuanya itu untuk memuliakan Allah. (1 Kor 10:31)
                                                                                   
Jika kita telah memahami keberadaan kita sebagai hamba Allah, maka motivasi kita untuk melayani bukan lagi berpusat pada kepentingan diri sendiri melainkan bagi kemuliaan Allah. Motivasi kita untuk melayani Tuhan dapat dijabarkan sebagai berikut:
  Motivasi Ketaatan
Ketaatan melakukan perintah Tuhan untuk melayani Tuhan dan sesama.
—Yesus menjawab, "Di dalam Alkitab tertulis, ‘Sembahlah Tuhan Allahmu dan layanilah Dia saja."—  (Luk 4:8)
  Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. (1 Petrus 4:10)

Motivasi Kasih
Kasih kepada sesama seperti yang diperintahkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus sendiri.
  “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:14-15)
  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Gal 5:13)

 Motivasi Keteladanan
Meneladani apa yang Tuhan Yesus lakukan saat Ia berkata bahwa Ia datang untuk melayani (Mrk 10:45). Bahkan Ia mengatakan bahwa kita dimampukan melakukan pekerjaan yang lebih besar dari yang dilakukan-Nya (Yoh 14:12).

 Motivasi Misi
Menyadari bahwa kita dipilih dan diberi kuasa untuk mengerjakan misi Allah, serta mewariskan iman yang hidup itu kepada generasi yang kemudian.
  Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kis 1:8)
  Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.(2 Tim 2:2)

 Motivasi Zaman Akhir
Melayani sebagai tindakan berjaga-jaga untuk menyambut datangnya Kristus  yang kedua kali.
n  Berbahagialah hamba-hamba yang didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. ... Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan." (Luk 12:37, 40)

Kita telah mengerti bahwa kita harus melayani dengan motivasi yang benar, namun sebagai manusia, kita pun sangat terbatas dan dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan manusiawi kita.

Pada umumnya ada tiga bentuk motivasi manusia:
Motivasi Ketakutan (Fear Motivation), yaitu motivasi karena adanya rasa takut. Orang mau melakukan sesuatu karena takut akan adanya paksaan atau tekanan dari berbagai pihak. Ia takut akan akibatnya jika ia tidak melakukan hal itu.
Motivasi Imbalan (Incentive Motivation), yaitu motivasi karena adanya imbalan (intensif). Imbalan ini bisa berupa pujian, prestise, promosi atau penghargaan.
Motivasi Sikap (Attitude Motivation), yaitu motivasi yang berhubungan erat dengan tujuan-tujuan yang bersifat pribadi, bukan dari luar. Bentuk ini juga disebut Motivasi Diri (Self Motivation).
Motivasi-motivasi tersebut menggambarkan sifat manusia yang cenderung berpusat pada diri sendiri. Kita sebagai orang yang telah diselamatkan oleh darah Kristus harus berjuang untuk menanggalkan segala sifat egois kita dan belajar untuk hidup berpusat pada Kristus. Untuk dapat memiliki hidup yang demikian, tidak ada jalan lain selain dibutuhkan kesetiaan dan ketekunan. Hidup di dalam Kristus bukan hanya memberikan pengharapan untuk kelak menikmati kehidupan surga yang kekal, tetapi juga memberikan pengharapan akan pemeliharaan Tuhan selama kita hidup di dunia. Demikian indahnya janji Tuhan bagi kita seharusnya memperteguh kesetiaan kita melayani Tuhan.

  Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. (Mat 6:33)

Menjaga Semangat Melayani

Ada tiga sumber semangat:
Semangat dari dalam diri sendiri.
Sejak awal orang seperti ini memang sudah aktif dan agresif. Ia mampu membangun motivasi diri dengan baik. Orang seperti ini memiliki prinsip hidup yang amat kuat, dan rasa percaya diri yang amat besar. Contoh Alkitab adalah Kaleb,
  Tetapi hamba-Ku Kaleb, karena lain jiwa yang ada padanya dan ia mengikut Aku dengan sepenuhnya, akan Kubawa masuk ke negeri yang telah dimasukinya itu, dan keturunannya akan memilikinya. (Bil 14:24)
Semangat yang timbul karena pengaruh lingkungan.
Seorang mahasiswa bersemangat mengerjakan tugas praktikumnya karena berada dalam satu kelompok dengan teman sahabatnya. Seorang atlit bersemangat latihan setiap hari karena dijanjikan hadiah yang besar jika dia menang. Contoh dalam Alkitab adalah ketika orang banyak bersemangat mengikuti Yesus. Semangat itu dipengaruhi oleh motivasi untuk menerima kesembuhan, mendapatkan makanan, dan berbagai mujizat lainnya.
 
Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia.  (Mat 8:1)
Semangat dari Tuhan.
Contoh yang sangat jelas adalah semangat Rasul Paulus dalam memberitakan Injil.
  Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. (2 Kor 4:16)
  Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. (2 Tim 1:7)

Sinonim kata “semangat” adalah antusias, bergairah, menaruh minat besar, bergelora hati, berkemauan yang kuat untuk terus bekerja, berjuang. Semangat sangat penting dalam membangun apa saja, baik kuliah, pelayanan, pekerjaan, meraih cita-cita, dsb. Semangat dapat memberi kita kekuatan untuk bertahan, tetap berjuang, memberi pengharapan, memperluas visi, membuka jalan keluar dari masalah. Bukan semangat biasa saja yang kita butuhkan melainkan semangat yang datang dari Tuhan dan dari hati.

Seperti yang dialami Nehemia dan kawan-kawan di dalam membangun kembali kota Yerusalem yang sudah hancur. Secara manusia sudah tidak mungkin, tetapi Tuhanlah yang memberi semangat untuk tetap maju meskipun banyak tantangan dan serangan yang mengancam nyawa Nehemia. Demikian pula dengan Paulus yang ditindas, dianiaya, difitnah tetapi tetap bertahan memberitakan Injil sampai akhir hidupnya.

Apa yang membuat orang patah semangat untuk melayani Tuhan?

Sikap apatis = tidak peduli, masa bodoh (Roma 14:23).
Serangan/pekerjaan iblis untuk melumpuhkan iman kita dengan cara mengalihkan perhatian kepada kesenangan-kesenangan sesaat/sementara. Fokus kita untuk Tuhan dan pekerjaan-Nya dialihkan kepada hal-hal jasmani atau materi sehingga lupa dengan perjanjian yang disiapkan Tuhan bagi kita.
Egois, mencintai diri sendiri, memanjakan diri sendiri, mengasihani diri sendiri.
Bagaimana agar tetap semangat melayani Tuhan?
  Mengenal Allah.
Kita harus mengenal Allah  dengan jelas dan itu hanya bisa dicapai dengan komunikasi yang intensif melalui Saat Teduh, berdoa, dan membaca Alkitab setiap hari. Kita perlu mempunyai pengalaman pribadi dalam hidup bersama dengan Tuhan untuk bisa mengenal-Nya secara jelas.
Contoh dalam Alkitab: Yosua dan Kaleb sekembalinya dari tugas mengintai tanah Kanaan, mereka makin bersemangat dan bertambah yakin kepada janji Allah bahwa mereka akan merebut tanah perjanjian itu (Bil 13) karena mereka tahu dengan jelas bahwa Allah yang berjanji itu dapat dipercaya. Ketika Ia berjanji pasti digenapi. Jika kita mengenal siapa Allah yang kita layani, bahwa Ia tidak pernah salah dan tidak pernah lupa, kita akan makin bersemangat.
Memandang kepada Yesus
Yesus sudah menyelesaikan tugas-Nya menyelamatkan kita dengan mati di kayu salib. Jika kita mengingat segala pengorbanan dan penderitaan-Nya itu, masihkah kita tidak semangat melayani-Nya?
Memandang kepada kekekalan (Kol 3:1-2).
Paulus tidak tawar hati sebab ia memandang kepada kemuliaan yang akan datang (2 Kor 4:1, 6, 14). Janji kemuliaan yang akan diterima membuat Paulus tidak pernah tawar hati tapi terus bersemangat memberitakan Injil. Marilah kita belajar meneladaninya.

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor,
biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.
Roma 12:11

Jumat, 11 Juli 2014

MENARIK KUASA DALAM IBADAH

                        

                            MENARIK KUASA DALAM IBADAH
                                           (1 Sam. 7:1-2; 2 Sam 6:9-13)


PENDAHULUAN

Tentunya setiap orang yang beribadah ke gereja, persekutuan atau komsel merindukan satu manfaat bagi dirinya.
Pengalaman tiap orang dalam hal beribadah itu berbeda.
Tuhan dari semula merindukan untuk hadir ditengah2 umatNya.
Wujud kerinduan Tuhan utk hadir ditengah2 umatNya dinyatakan secara Fisik melalui Tabut Perjanjian.


A. ARTI TABUT PERJANJIAN?

Sebuah Kotak dari kayu penaga yg didalamnya terdapat Dua Loh batu dan Tongkat Haru yg bertunas. Tabut ini tempatnya di Ruang Maha Kudus
Tabut ini adalah simbol bahwa Yahweh berada/bersama mereka –>menyatakan kehadiran Tuhan ditengah UmatNya (Tutup Pendamaiannya ada Kerubim –>Tahta Yahweh, tempat Tuhan berbicara kepada Imam Besar)
Tabut ini penting bagi orang Israel, mereka menyimpannya di Kemah Suci, spy mereka mengalami kemenangan dlm peperangannya dgn Filistin (1 Sam. 4)
Istilah Tabut Perjanjian saat ini bukan lagi secara fisik, tapi memiliki arti kehadiran Tuhan dalam ibadah kita (/= Ibadah).
Dampak kehadiran Tuhan bagi setiap orang itu berbeda dan beradanya seseorang di dalam Ibadah/ hadirat Tuhan –>itu tidak secara otomatis mendatangkan kuasa bagi bagi dirinya.
Perjalanan Tabut Perjanjian setelah dirampas oleh orang Filistin sampai dengan kembalinya ke Israel menyatakannya.
Dua kebenaran yang dpt kita ambil dari peristiwa ini. (Pribadi yg menyembah/beribadah & Perlakuan/sikap terhadap tabut/ibadah itu)
Ada 3 kemungkinan Gambaran sikap seseorang terhadap Ibadah, yaitu: (ada yg menarik kuasa Tuhan & tidak)



B. PERTAMA: PRIBADI YG BERIBADAH –>dengan melihat tiga akibat dari kehadiran Tabut Perjanjian Tuhan 1. DI DAERAH ORANG FILISTIN


Tabut Tuhan didaerah orang Filistin –>7 bulan lamanya (1 Sam. 6:1)
Tabut Tuhan mendatangkan kegemparan maut DI Asdod, Gaza, Askelon, Gat dan Ekron (1 Sam. 5:1-10) –>Orang Filistin berencana utk mengembalikan Tabut Tuhan (1 Sam. 5:11-12)
Tabut Tuhan dikembalikan (1 Sam. 6:1-8, 21)
 Arti Filistin  –> Migrant = pekerja yang mengembara
 Nb.:
Orang yg masih mendua hati (Tdk Fokus) Tuhan / Dunia –>tidak akan bisa bertahan dalam beribadah. Ibadah baginya adalah kebosanan dan siksaan tersendiri. Mereka akan buru2 menyelesaikan dan meninggalkannya, hatinya tidak ada dalam ibadah.
Orang yg tidak mengalami keindahan dlm ibadah –>dia akan cenderung “mengembalikan” Tabut Tuhan.
Mereka mau mengalami pengalaman/perubahan hidup seperti orang lain –>tapi masih dengan kondisinya saat ini (tanpa menanggalkan yg lama).
Motivasi:
-          Awalnya mereka membawa Tabut itu utk keinginannya sendiri. -          Akhirnya orang Filistin dalam mengembalikan Tabut beserta pemberian mereka –>itu adalah karena ketakutan dan untuk menerima pemulihan dari kutuk Tuhan.
Orang yg demikian meskipun beribadah namun tidak mengalami berkat dan kuasa dari Ibadahnya.


2.  DI RUMAH ABINADAB (1 Sam. 7:1-2) a. Tabut Tuhan 20 tahun lamanya di rumah Abinadab (2) –>tidak dijelaskan 

Tuhan memberkati dia dan seisi rumahnya (bahkan orang Israel kondisinya sesak, mengeluh) b. Arti Nama Abinadab
father of a vow (Bapak Yang berjanji)
father of willingness (Bapak yg berkeinginan)
my father is willing (Bapakku yang mau)
my father is generous (Bapakku murah hati, dermawan).
c. Ibadah yg menarik kuasa Tuhan itu:
Ibadah itu harus dari diri sendiri dorongan/kerinduannya (bukan orang lain: ortu, pacar,teman, dll) –>dan juga bukan ikut-ikutan orang lain.
Kerinduan/dorongan –>hendaknya keluar dari diri sendiri bukan dari orang lain (paksaan).
Tidak terpengaruh orang lain –>Ibadah/Hadirat Tuhan itu sifatnya pribadi
d. Daud berinisiatip utk memindahkan kembali ke Kota Daud (2 Sam. 6:3) –>Tabut menyimpang dan beralih ke rumah Obed Edom (di Gat)


3. DI RUMAH OBED EDOM (2 Sam 6:9-13)

a. Tabut Tuhan 3 bulan lamanya di rumah Obed Edom (11) –>dia dan seisi rumahnya diberkati.
b. Arti Nama Obed Edom (Obed dan Edom)
Obed= (1) servant (hamba), (2) worshipper (penyembah), (3) workman (pekerja)
c.  Lamanya menjadi orang Kristen tidak jaminan kalau ibadahnya berdampak bagi kehidupannya
Abinadab 20 tahun tdk merasakan kuasa ibadah, Sedangkan Obed Edom baru 3 bulan –>dia merasakan kuasanya ibadah.
d. Hal2 yang dapat menarik kuasa dari suatu ibadah adalah:
Pribadinya haruslah memiliki karakter –>seorang hamba, penyembah dan pekerja.
Nb.: Pribadi yang menyembah dia –>secara alami akan bertumbuh sebagai seorang hamba dan pekerja bagi Tuannya.
Orang yg tidak mengalami keindahan dlm ibadah –>dia akan cenderung “mengembalikan” Tabut Tuhan.
SEBALIKNYA orang yg merasakan indahnya ibadah –>dia akan berusaha utk “mengambil kembali” Tabut Tuhan (berapapun harganya).
Kristen Obed Edom memiliki Gambaran perkembangan seperti yg diwakili 3 Pribadi yang berada di “Peristiwa Narwastu”:
Nb.:
Duduk diam (Penyembah) –>sebagai titik awal, sumber dorongan dan dasar bagi Pelayanan.
Kebiasaan ini membuat orang berani memberikan/berkorban bagi Tuhan lebih lagi (Maria: suka duduk diam dibawah kaki TY/Luk. 10:39 dan dia juga yg berani memberikan minyak Narwastu yg mahal utk peringatan kematian TY/ Mark. 14)
Maria menerima sesuatu yg terbaik yg tidak akan diambil dari padanya (Luk. 10:42) DAN melakukan sesuatu yg hasilnya kekal (Mark. 14:9)


C.  KEDUA: PERLAKUAN TERHADAP TABUT PERJANJIAN TUHAN/IBADAH –>TABUT ITU HARUS DIANGKAT

1. Disediakan khusus gelang2 tempat kayu pengusung (Kel. 37:5)
2. Daud dalam usahanya yang pertama memakai cara –>seperti cara orang Filistin (2 Sam. 6:3 cf. 1 Sam. 6:7) –>gagal mengangkut Tabut Perjanjian (dgn kereta baru BUKAN diangkat)
Dalam beribadah, selain pribadi kita benar –> cara kita harus juga benar menurut Firman Tuhan.
Orang Filistin mengangkut Tabut Tuhan dengan caranya sendiri, karena mereka tidak Tahu Firman Tuhan.
Cara beribadah yg benar akan membawah dampak. Contoh: Tembok Yerikho (Yos.6) –> roboh karena apa? Pujian umat Tuhan dan Ketaatan akan cara Tuhan. Ibadah itu akan membawa apabila keseharian kita hidup dalam ketaatan dan menerapkan Cara Tuhan dalam beribadah.
Ibadah itu memberi sesuatu: Orang Filistin:  tidak dgn tangan hampa; Perintah Tuhan: Datang pada Tuhan jgn dengan tangan hampa; Daud: memberikan korban setiap melangkah.
Dengan memakai tanda keimaman (Daud sebagai Raja –> dia memakai Baju Efod, 2 Sam. 6:14) –> BUKAN tariannya yg membuat dia berhasil.
3. Daud memindahkan Tabut utk yg kedua kalinya dgn cara mengangkat (2 Sam. 6:12-13) 4. Arti kata “Diangkut”/diangkat = nasa (Ibr) = 1. lift, lift up = diangkat,  2. Exalted = ditinggikan
Hadirat Tuhan itu harus ditinggikan oleh setiap orang yg hadir –>dalam PB, dengan kematian TY: setiap kita adalah imam yang langsung dpt berhubungan dengan Tuhan tanpa melalui perantara.
Lebih mudah mendorong daripada mengangkat –>ini butuh tenaga yg lebih besar. Ketika dlm PAW suasana kurang –>maka setiap kita harus masuk dlm hadirat Tuhan sendiri tanpa memperhatikan orang lain.
Dalam mengangkat Tabut Perjanjian ini diperlukan beberapa orang –>kesatuan & kesehatian, meskipun sifatnya pribadi demi pribadi. Tapi kalau dlm ibadah bersama itu perlu kesatuan roh.


PENTUTUP

Ibadah yang berkenan kepada Bapa itu berbicara mengenai Pribadi (Ketaatan sehari-hari, kerinduan & Motivasi).dan Perlakuan kita dlm beribadah kepada Bapa (Cara: “Angkat Tabut”)
Lamanya kita percaya hendaknya membuat kita memiliki kerinduan sendiri utk menjadi penyembah dan pekerja, karena Ibadah itu tidak hanya berbicara mengenai Penyembahan melainkan juga Pekerjaan (hamba)

Ibadah itu bukan mengubah Tuhan, tapi mengubah diri kita. Karena Tuhan tidak berubah…

EMPAT MACAM PERTOBATAN

          
                         EMPAT MACAM PERTOBATAN

 Bahan Khotbah    : Matius 3:1-2
“ Pada waktu itu tampilah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat
PENDAHULUAN
       
  Haleluyah

 Salam sejahtera, dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
 Biarlah berkat Allah, damai sejahtera-Nya senantiasa melimpah atas kita. Kita bersyukur Tuhan, masih memberikan kita kesempatan untuk beribadah dengan nyaman dan tanpa kendala.  Kalau kita perhatikan, dibeberapa tempat mereka belum dapat beriadah dengan leluasa, karena adanya bencana yang melanda mereka. Oleh sebab itu, jika kita masih dapat beribadah dengan bebas, hal ini patut kita syukuri dan sudah sepantanya kita pergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.
 Hari ini saya akan berbicara tentang satu tema yang barangkali kurang begitu popular dan tidak banyak yang menyukainya yaitu seputar pertobatan.
 Kata pertobatan dan tobat dalam Alkitab disebutkan lebih dari 100 kali. Itu artinya masalah pertobatan ini adalah masalah yang penting yang harus kita perhatikan dengan serius.
                    
    Apa itu bertobat?

  Saudara terkasih  sekalian,
 Ayat yang baru saja kita baca dalam Matius 3:1-2 ini mencatat kegiatan pelayanan Yohanes pembaptis dipadang gurun yang dengan tekun memberitakan berita pertobatan dengan mengatakan “ Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat”. Saya tidak tahu bagaimana pendapat saudara  tentang bertobat. Tetapi menurut penegrtian Alkitab, ada beberapa arti yang bisa kita pelajari.
 Kata tobat, dipakai sebagai terjemahan kata “שׁוּב ‘ Baca :šûv’ dalam perjanjian lama. Kata ini ada dalam beberapa ayat dalam perjanjian lama. Sedangkan dalam PB, pertobatan berasal dari kata” μετανοεω ‘metanoeō’ (kata benda), μετανοια ‘metanoia’ (kata kerja), dan kata επιστρεφω ‘epistrefō’.

Arti kata:

Kata שׁוּב ’šûv’ berarti: berbalik arah, kembali
Kata μετανοια ’metanoia’ berarti: perubahan pikiran
Kata μετανοεω ’metanoeō’ (kata benda) berarti: ‘berubah pikiran’.
Kata επιστρεφω ‘epistrefō’ berarti: kembali
 Dari 3 kata tersebut dapat diketahui bahwa tobat adalah kondisi saat manusia berubah pikiran, berbalik, dan kembali ke arah sebelum berbuat dosa, yaitu kembali ke Tuhan, kemudian pertobatan pikiran tersebut diikuti dengan perubahan pada riil (perbuatan, sikap, perkataan). Emosi penyesalan bukan unsur utama dari suatu pertobatan, walau hal itu sering terjadi.
 Ilustrasinya, jika Anda sebelumnya berjalan ke arah utara lalu Anda menyesal, berubah pikiran, dan berbalik arah ke selatan menuju ke titik sebelum Anda berjalan ke arah utara, maka titik Anda menyesal, berubah pikiran, dan membalikkan badan adalah titik pertobatan tersebut.
Empat macam pertobatan
 Saudaraku sekalaian, Allah merindukan agar setiap kita umat-umat-Nya bertobat. Persoalannya, bertobatan yang bagaimana yang Tuhan inginkan? Sebab dalam kehidupan, kalau kita perhatikan, ternyata ada bermacam-macam pertobatan. Setidaknya ada empat macam pertobatan, yaitu
 Benar-benar tidak bertobat (Kej 4:1-15 ).
 Ada kelompok orang yang ketika mendengar peringatan Tuhan, mereka tidak mau bertobat, tetapi justru mengeraskan hati mereka. Kain tidak menyadari bahwa ia telah berdosa karena membunuh adiknya. Bahkan yang ia lakukan justru melawan Tuhan. Sering terjadi ada orang-orang yang tidak mau menyadari kesalahannya dan tidak mau tunduk kepada Tuhan dan menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya melawan kepada Tuhan dan menyakiti hati Tuhan, bahkan sesamanya. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak mau bertobat. Ia bahkan mengeraskan hati, melawan kepada firman Tuhan. Ia meremehkan firman Tuhan.  Ibr 3:15 ,
 “ Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”
Bertobat menyesali perbuatannya, tetapi mengulangi kembali ( 1 Sam 15:1-35 teruatam ayat 24-25 )
 Saul berbalik dari Allah menyesali perbuatannya tetapi melakukan kejahatan lagi. Ada banyak orang sekarang ini terus melakukan kejahatan dengan perbuatan yang berbeda dengan sebelumnya yang pernah dilakukannya. Inilah pertobatan yang kelihatan menyesali tetapi melakukan lagi, semestinya hal ini jangan dilakukan lagi dan harus menjauhi dosa.
Berobat tetapi melakukan langkah yang salah ( Mat 27:1-10)
 Yudas menyesal atas perbuatannya, tetapi ia gatung diri karena ia tidak bisa menahan malu. Sering terjadi orang bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban yang dipikulnya, orang yang demikian orang yang tidak memiliki iman yang kuat sehingga mencari jalan keluar sendiri dan akhirnya bunuh diri.
Bertobat yang menyesali dan berbalik arah kepada Allah. (KPR 13: 22; 1 Taw. 29: 10-14).
 Kehidupan Raja Daud pernah melakukan kesalahan yang fatal tetapi Daud mengakui, menyesali dan ia membuka kesalahannya dihadapan rakyatnya dan Tuhan sangat mengasihi Daud sebab ia tidak mau melakukan hal yang sama bahkan ia meninggalkan perbuatannya lama dan melakukan yang berkenan dihadapan Tuhan di dalam hidupnya.
                 
   Kapan kita bertobat?
      
     Karena seseorang tidak dapat diselamatkan tanpa pertobatan, maka perlu bagi seseorang untuk bertobat sesegera mungkin dan jangan menunda-nunda karena waktu tidak bisa ditentukan. (Luk. 13:3). Kehidupan ini sangat singkat dan tidak bisa dipastikan (Yakub 4:13-15). Kematian adalah pasti dan akan menimpa siapa saja, cepat atau lambat (Ibrani 9:27).
 Kita semua akan dihakimi dan tidak ada yang bisa lepas dari hukuman Allah, sesuai dengan segala perbuatan dalam kehidupan kita. Maka kita perlu untuk bertobat sesegera mungkin (2 Pet. 3:9).

Apakah Saudara belum bertobat dari dosa saudara? Lakukanlah sekarang juga, jika tidak maka saudara harus bertanggung jawab atas segala dosa saudara kepada Tuhan (2 Kor 5:10)

Rabu, 09 Juli 2014

HADAPILAH MASALAH DENGAN TANGGUNG JAWAB



Baca Firman Tuhan | Yakobus 1: 2 - 8.

Selama kita masih hidup di dunia ini, persoalan akan tetap ada. Bahkan masalah sepertinya datang silih berganti, yang seringkali membuat kita merasa tidak mampu menghadapi semuanya.

Jadi apabila saat ini kalau kita berpikir bahwa kita bisa menjalani hidup ini tanpa masalah, itu berarti kita sendiri ada di dalam masalah, karena telah memiliki pola pikir yang salah.

Tidak mungkin manusia hidup didunia ini tanpa masalah. Sebab saat manusia pertama kali jatuh kedalam dosa, ini merupakan sumber masalah yang terbawa sampai saat ini. Dengan pemahaman ini kita akan semakin mengerti bahwa setiap masalah yang datang kita harus tetap menghadapinya, dan bukan berusaha lari dari masalah yang kita hadapi.

Masalah yang datang harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab, dan berjuang dalam menghadapinya dengan tekun, karena sesulit apapun masalah yang kita hadapi, didalam Tuhan kita Yesus Kristus, pasti ada jalan keluarnya.

 Firman Tuhan mengajarkan kita supaya menganggap sebuah masalah sebagai suatu kebahagiaan.

Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,

Mungkin kita berkata bagaimana mungkin kita bisa menganggap setiap masalah sebagai suatu kebahagiaan ? Sebenarnya karena selama ini kita telah memiliki pola pikir yang salah, dimana yang kita inginkan hanyalah hidup tanpa masalah.


Padahal dibalik sebuah masalah sesungguhnya kita sedang di didik, kita sedang di ajar oleh Tuhan, supaya kita lulus didalam ujian terhadap iman percaya kita kepada Tuhan. Karena dengan ujian itu maka kita akan semakin bertekun.

 Yakobus 1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Yakobus 1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.

Kita harus sadar mulai saat ini. Tuhan menginginkan kita menjadi sempurna sama seperti Kristus.Jadi apapun yang sedang terjadi dalam hidup kita saat ini, kita akan tetap berkata kepada Tuhan “ Terima kasih Tuhan untuk segala pesoalan hidup yang harus saya hadapi saat ini”.

Memiliki sikap hidup seperti ini, kita akan menjadi pribadi yang dikehendaki oleh Tuhan yaitu; orang yang tahu mengucap syukur didalam segala hal.

Tuhan tidak membiarkan kita sendiri. Oleh sebab itu saat kita menghadapi masalah mintalah hikmat Tuhan yang akan menuntun kita untuk menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi.

Yakobus 1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Yakobus 1:6 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin.

Jadi jangan dengan mudahnya kita selalu meminta pertolongan Tuhan untuk mengangkat masalah yang kita hadapi. Tetapi mintalah hikmat Tuhan supaya kita mampu menyelesaikan masalah yang kita hadapi dengan tanggung jawab.

Tuhan telah memberikan potensi yang dikaruniakan kepada setiap orang percaya, supaya mampu untuk menghadapi apapun keadaan hidup saat ini.

Hal ini juga bukan berarti kita tidak perlu mengharapkan pertolongan Tuhan, tetapi kita harus kerjakan apa yang menjadi bagian kita yang harus kita kerjakan, sebagai manusia yang bertanggung jawab. Sebab sebagai anak-anak-Nya tanpa kita meminta pertolonganpun, Tuhan pasti menolong, asal saja kita setia didalam Dia. Karena Dia Bapa yang baik.

Kita harus belajar menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan. Karena apabila kita tidak menjadi dewasa dalam iman percaya kita kepada Tuhan, maka jangan pernah berharap Tuhan akan dengan mudahnya mengubah hidup kita.

Yakobus 1:7 Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.
Yakobus 1:8 Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Dengan menjadi dewasa dalam iman percaya kepada Tuhan, kita akan semakin mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita. Sehingga bila ada masalah yang Tuhan izinkan terjadi di dalam hidup kita, kita akan tetap melihatnya bukan lagi menjadi masalah, karena kita tahu didalam Tuhan kita akan cakap menanggung segala perkara.

Persoalan boleh datang, masalah yang kita hadapi boleh silih berganti, tetapi kita tidak akan menjadi takut lagi. Saat ini kita diajar untuk mengerti bahwa, masalah-pun kita telah mnganggapnya sebagai suatu kebahagiaan.

Jadi sebuah kebahagian hidup bukan hanya sesuatu yang enak untuk dinikmati, yang membuat kita bisa tinggal didalam rasa nyaman, tetapi masalah-pun bagi kita saat ini bisa menjadi sebuah kebahagiaan hidup, karena kita tahu didalam Tuhan kita Yesus Kristus dan oleh hikmat yang Tuhan karuniakan bagi kita, maka kita akan tetap melihat pasti ada jalan keluarnya. Lalu kita bisa berkata kepada Tuhan “Engkaulah kota benteng perlindunganku, disepanjang umur hidupku”. Amin.

BUKAN BERSERU TETAPI MELAKUKAN




Renungan harian hari ini adalah,:
                         
                     Mengerti Keinginan Tuhan.

 Sebelum membaca renungan ini mari kita berdoa.

Doa: Bapa yang Maha Kudus, saat kami membaca kebenaran ini biarlah Engkau memenuhi kami dengan hikmatMu, supaya kami boleh mengerti akan kebenaranMu, dan oleh pengertian akan kebenaranMu kami boleh terus belajar mengerti akan kehendakMu dan melakukan kehendakMu. Dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa, haleluya. Amin.

Seringkali ada begitu banyak orang percaya atau anak-anak Tuhan yang merasa hidupnya sudah aman karena sudah percaya kepada Yesus, apalagi setiap doa yang dinaikan ia selalu berseru memohon dan memanggil nama Tuhan didalam nama Yesus, dan tak jarang seringkali oleh karena belas kasihan Tuhan, doanya dijawab oleh Tuhan, maka ia akan merasa bahwa semuanya sudah beres karena Tuhan sudah menjawab doanya.

Persoalannya sekarang hidup sebagai orang percaya bukan hanya sekedar persoalan kehidupan seperti makan dan minum serta pakaian saja, lalu setiap hari anak-anak Tuhan datang dan berseru memanggil nama Tuhan supaya mencukupi segala kebutuhan hidup mereka, dan dengan cara hidup seperti ini maka mereka merasa sudah hidup bergantung pada Tuhan, lalu kalau sudah tercukupi semuanya itu sudah beres dan mereka bisa tetap merasa nyaman menjalankan kehidupan sehari-hari  sebagai orang percaya didalam Tuhan.

Kalau persoalannya hanya, makan, minum dan pakai, maka orang yang tidak percaya kepada Tuhan-pun tetap bisa hidup, karena mereka bekerja keras berusaha membangun bisnis yang bisa menguntungkan, dan ternyata banyak orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan didalam nama Tuhan Yesus-pun memiliki kehidupan yang sukses, bahkan jauh lebih sukses dari anak-anak Tuhan. Kalau kenyataannya seperti ini lalu apakah kita bisa menuduh Tuhan itu tidak adail ?. Tentu tidak, karena seluruh manusia dimuka bumi ini adalah ciptaanNya, jadi Allah sangat bertanggungjawab dengan penuh keadilan atas semua kehidupan manusia, selama manusia masih hidup dimuka bumi ini.

Kita harus melihat realita hidup ini, bahwa Allah menerbitkan matahari dengan setia setiap harinya bukan saja kepada anak-anak Tuhan yang dipandang baik, tetapi juga kepada orang yang hidup diluar Tuhan atau yang tidak percaya kepada Tuhan, atau boleh dikata orang jahat sekalipun. Demikian juga Allah menurunkan hujan bukan saja kepada orang-orang benar, tetapi juga kepada orang yang tidak benar, dan itu yang Firman Tuhan katakan. (Matius 5:45).

Bila demikian, lalu apa yang membedakan antara orang percaya atau anak-anak Tuhan dengan orang yang tidak percaya atau orang yang hidup diluar Tuhan ?. Ini yang menjadi persoalan penting, dimana Tuhan mau setiap anak-anaknya tidak mengarahkan pandangannya hanya kepada perkara-perkara dunia yang fana, termasuk didalamnya persoalan makan, minum dan pakai, serta berbagai kesenangan yang bisa dinikmati saat ini, sebab kehidupan didunia ini hanya sementara tetapi nanti dibalik kematian semua manusia akan diperhadapkan kepada sebuah realita kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan kekal.

Saat menghadapi realita kehidupan yang sesungguhnya itulah maka orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan selama ia masih hidup didunia, dimana ia hidup hanya melakukan segala yang jahat dimata Tuhan akan menerima bagian yang harus ia terima yaitu kebinasaan kekal, tetapi bagi orang percaya atau anak-anak Tuhan yang selama hidup didunia ia hidup takut akan Tuhan juga akan menikmati bagian yang telah disediakan Tuhan yaitu kenyamanan hidup kekal.

Lalu apakah cukup hanya dengan percaya saja, dan berseru-seru mamanggil nama Tuhan maka setiap orang akan diselamatkan ?. Tentu tidak, karena Tuhan memberikan syarat khusus untuk menikmati kenyamanan hidup kekal, dan syaratnya adalah setiap orang percaya harus hidup sama seperti Kristus telah hidup.

Hal ini ditegaskan kepada kita dalam, Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

Yesus yang sekarang berada dan duduk disebelah kanan Allah Bapa di sorga dan yang pada akhirnya akan burkuasa untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati, itu merupakan buah dari sebuah perjuangan berat yaitu, Selama Ia hidup di dunia ini, hidupnya hanya untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya di sorga, dan tidak ada bagian kecil sekalipun dimana Ia mau mengambil kesempatan untuk  menikmati kesenanagan hidup.

Kalau untuk menikmati kesenangan hidup selama Ia berada didunia ini bukan tidak ada kesempatan, karena kesenangan hidup itu sudah ditawarkan kepada-Nya oleh iblis tetapi Ia menolak tawaran itu, jadi tidak ada bagian terkecil sekalipun dari kesenangan dunia ini yang Ia nikmati.

Firman Tuhan katakan dalam Matius 4:8 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, 4:9 dan berkata kepada-Nya: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” 4:10 Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kebenaran ini telah menunjukan kepada kita sebuah pilihan, apakah kita mau untuk menikmati hidup dengan segala kesenangannya hanya selama kita ada didunia ini tetapi kemudian binasa dalam kekekalan atau kita menolak kesenangan dunia, sama seperti Kristus menolaknya, tetapi memberi dampak yaitu bisa menikmati kesenagan kekal.

Jadi setiap orang percaya dituntut untuk memiliki cara hidup seperti Kristus hidup, supaya pada akhirnya orang percaya atau anak-anak Tuhan bisa menikmati kesenangan dan indahnya kehidupan yang sesungguhnya yaitu kesengan hidup kekal.

Orang percaya yang mau memilih untuk hidup sama seperti Kristus hidup, tidak hanya bisa menikmati keindahan kehidupan kekal didalam kerajaan sorga, tetapi setiap orang percaya juga dipanggil untuk turut memerintah.

Firman Tuhan katakan dalam 2 Timotius 2:11 Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; 2:12 jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita; 2:13 jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya.”

Ingat bahwa Firman Tuhan itu ya dan amin, jadi janji Firman Tuhan bahwa setiap kita akan ikut memerintah bersama-sama denga Kristus bukan pepesan kosong, karena ini merupakan janji Tuhan dan Tuhan tidak pernah melanggar janjinya.

Mari tanamkan beberapa hal ini didalam hati kita mulai saat ini.
Ingat selalu bahwa hidup sebagai orang percaya itu bukan hanya sekedar kita berseru-seru memanggil nama Tuhan lalu diselamatkan, tetapi harus melakukan kehendak Tuhan.
Jangan arahkan pandanganmu hanya kepada kesuksesan orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, karena pada akhirnya mereka akan meluncur masuk kedalam kebinasaan kekal.
Arahkanlah pandanganmu kepada pilihan yang sudah Tuhan Yesus tunjukan, supaya pada akhirnya engkau akan didapatkan berkenan dan akan ikut memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus di sorga.

Kiranya kebenaran ini memberkati kita semua. Dan bila engkau diberkati dengan kebenaran ini maka berikanlah link renungan ini kepada semua orang yang engkau kasihi. renunganhariini.com, Tuhan Yesus memberkati kita semua......

EMPAT MACAM PERTOBATAN


 Bahan Khotbah    : Matius 3:1-2
“ Pada waktu itu tampilah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan: Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat ”.

PENDAHULUAN
         Haleluyah
 Salam sejahtera, dalam kasih Tuhan Yesus Kristus. Biarlah berkat Allah, damai sejahtera-Nya senantiasa melimpah atas kita. Kita bersyukur Tuhan, masih memberikan kita kesempatan untuk beribadah dengan nyaman dan tanpa kendala.  Kalau kita perhatikan, dibeberapa tempat mereka belum dapat beriadah dengan leluasa, karena adanya bencana yang melanda mereka. Oleh sebab itu, jika kita masih dapat beribadah dengan bebas, hal ini patut kita syukuri dan sudah sepantanya kita pergunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya.

 Hari ini saya akan berbicara tentang satu tema yang barangkali kurang begitu popular dan tidak banyak yang menyukainya yaitu seputar pertobatan.

 Kata pertobatan dan tobat dalam Alkitab disebutkan lebih dari 100 kali. Itu artinya masalah pertobatan ini adalah masalah yang penting yang harus kita perhatikan dengan serius.

Apa itu bertobat?
  Saudara terkasih  sekalian,
 Ayat yang baru saja kita baca dalam Matius 3:1-2 ini mencatat kegiatan pelayanan Yohanes pembaptis dipadang gurun yang dengan tekun memberitakan berita pertobatan dengan mengatakan “ Bertobatlah sebab kerajaan Sorga sudah dekat”. Saya tidak tahu bagaimana pendapat saudara  tentang bertobat. Tetapi menurut penegrtian Alkitab, ada beberapa arti yang bisa kita pelajari.

 Kata tobat, dipakai sebagai terjemahan kata “שׁוּב ‘ Baca :šûv’ dalam perjanjian lama. Kata ini ada dalam beberapa ayat dalam perjanjian lama. Sedangkan dalam PB, pertobatan berasal dari kata” μετανοεω ‘metanoeō’ (kata benda), μετανοια ‘metanoia’ (kata kerja), dan kata επιστρεφω ‘epistrefō’.

 Arti kata:

Kata שׁוּב ’šûv’ berarti: berbalik arah, kembali
Kata μετανοια ’metanoia’ berarti: perubahan pikiran
Kata μετανοεω ’metanoeō’ (kata benda) berarti: ‘berubah pikiran’.
Kata επιστρεφω ‘epistrefō’ berarti: kembali
 Dari 3 kata tersebut dapat diketahui bahwa tobat adalah kondisi saat manusia berubah pikiran, berbalik, dan kembali ke arah sebelum berbuat dosa, yaitu kembali ke Tuhan, kemudian pertobatan pikiran tersebut diikuti dengan perubahan pada riil (perbuatan, sikap, perkataan). Emosi penyesalan bukan unsur utama dari suatu pertobatan, walau hal itu sering terjadi.
 Ilustrasinya, jika Anda sebelumnya berjalan ke arah utara lalu Anda menyesal, berubah pikiran, dan berbalik arah ke selatan menuju ke titik sebelum Anda berjalan ke arah utara, maka titik Anda menyesal, berubah pikiran, dan membalikkan badan adalah titik pertobatan tersebut.
Empat macam pertobatan
 Saudaraku sekalaian, Allah merindukan agar setiap kita umat-umat-Nya bertobat. Persoalannya, bertobatan yang bagaimana yang Tuhan inginkan? Sebab dalam kehidupan, kalau kita perhatikan, ternyata ada bermacam-macam pertobatan. Setidaknya ada empat macam pertobatan, yaitu
 Benar-benar tidak bertobat (Kej 4:1-15 ).
 Ada kelompok orang yang ketika mendengar peringatan Tuhan, mereka tidak mau bertobat, tetapi justru mengeraskan hati mereka. Kain tidak menyadari bahwa ia telah berdosa karena membunuh adiknya. Bahkan yang ia lakukan justru melawan Tuhan. Sering terjadi ada orang-orang yang tidak mau menyadari kesalahannya dan tidak mau tunduk kepada Tuhan dan menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya melawan kepada Tuhan dan menyakiti hati Tuhan, bahkan sesamanya. Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak mau bertobat. Ia bahkan mengeraskan hati, melawan kepada firman Tuhan. Ia meremehkan firman Tuhan.
           Ibr 3:15 ,
 “ Tetapi apabila pernah dikatakan: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”
Bertobat menyesali perbuatannya, tetapi mengulangi kembali ( 1 Sam 15:1-35 teruatam ayat 24-25 )
 Saul berbalik dari Allah menyesali perbuatannya tetapi melakukan kejahatan lagi. Ada banyak orang sekarang ini terus melakukan kejahatan dengan perbuatan yang berbeda dengan sebelumnya yang pernah dilakukannya. Inilah pertobatan yang kelihatan menyesali tetapi melakukan lagi, semestinya hal ini jangan dilakukan lagi dan harus menjauhi dosa.
Berobat tetapi melakukan langkah yang salah ( Mat 27:1-10)
 Yudas menyesal atas perbuatannya, tetapi ia gatung diri karena ia tidak bisa menahan malu. Sering terjadi orang bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban yang dipikulnya, orang yang demikian orang yang tidak memiliki iman yang kuat sehingga mencari jalan keluar sendiri dan akhirnya bunuh diri.
Bertobat yang menyesali dan berbalik arah kepada Allah. (KPR 13: 22; 1 Taw. 29: 10-14).
 Kehidupan Raja Daud pernah melakukan kesalahan yang fatal tetapi Daud mengakui, menyesali dan ia membuka kesalahannya dihadapan rakyatnya dan Tuhan sangat mengasihi Daud sebab ia tidak mau melakukan hal yang sama bahkan ia meninggalkan perbuatannya lama dan melakukan yang berkenan dihadapan Tuhan di dalam hidupnya.

Kapan kita bertobat?
           Karena seseorang tidak dapat diselamatkan tanpa pertobatan, maka perlu bagi seseorang untuk bertobat sesegera mungkin dan jangan menunda-nunda karena waktu tidak bisa ditentukan. (Luk. 13:3). Kehidupan ini sangat singkat dan tidak bisa dipastikan (Yakub 4:13-15). Kematian adalah pasti dan akan menimpa siapa saja, cepat atau lambat (Ibrani 9:27).
 Kita semua akan dihakimi dan tidak ada yang bisa lepas dari hukuman Allah, sesuai dengan segala perbuatan dalam kehidupan kita. Maka kita perlu untuk bertobat sesegera mungkin (2 Pet. 3:9).

Apakah Saudara belum bertobat dari dosa saudara? Lakukanlah sekarang juga, jika tidak maka saudara harus bertanggung jawab atas segala dosa saudara kepada Tuhan (2 Kor 5:10)

Senin, 07 Juli 2014

BERHARAP PADA PERTOLONGAN TUHAN





Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5)

“Saya percaya Tuhan pasti menolong saya! Dalam kondisi kekurangan uang, saya percaya berkat Tuhan akan dicurahkan secara melimpah dalam hidup saya!”

Pernyataan ini sering keluar dari mulut umat Tuhan. Bahkan ada yang menyebut sebagai pernyataan yang menyenangkan hati Tuhan karena mengandung keyakinan yang tinggi pada pertolongan Tuhan.

Seharusnya tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuan Tuhan dalam menolong kita. Tuhan memiliki kuasa yang mahadahsyat untuk menyelesaikan semua masalah keuangan kita. Namun, Tuhan tidak ingin semua solusi untuk masalah keuangan kita datang dari Dia. Tuhan ingin ada kerja sama yang baik dengan kita ketika kita berusaha keluar dari masalah keuangan.

Bahkan, Tuhan sering kali me¬minta kita untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu sebelum Dia menolong kita. Masalahnya, kita cenderung tidak suka jika harus melakukan sesuatu. Kita mengharapkan pertolongan yang mutlak dari Tuhan. Kita berpikir, Tuhan sebagai penolonglah satu-satunya jawaban untuk masalah keuangan kita.

Jangan Salah Tafsir

Sering kali suatu ayat diartikan secara bebas oleh umat Tuhan. Misalnya mengambil sebagian dari ayat di atas dan menyatakan “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut.” Dengan mengatakan dan mengimani, mereka berharap pertolongan Tuhan segera datang tanpa perlu melakukan apa pun. Padahal, jika disimak dengan lebih teliti ayat di atas, ada urutan langkah yang dilakukan Tuhan dalam menyelesaikan masalah keuangan kita.

Langkah pertama menuntut kita melakukan tindakan terlebih dahulu. ”Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu”. Sebelum Tuhan melakukan apa pun, kita harus melaku-kan dua hal terlebih dahulu.

a. Tidak menjadi hamba uang.
Tuhan menyadari kita akan mengalami masalah keuangan ketika kita masih menjadi hamba uang. Oleh karena itu, kita tidak akan pernah bisa merasakan pertolongan Tuhan dalam masalah keuangan.

Ketika Tuhan menolong kita menyelesaikan suatu masalah, kita akan segera jatuh ke masalah keuangan lainnya bila kita belum bebas dari perbudakan uang. Tuhan sangat mengerti hal ini, sehingga Dia menetapkan syarat supaya kita bisa merasakan pertolongan Tuhan dalam keuangan kita dan tidak jatuh lagi dalam masalah yang sama.

b. Mencukupkan diri
Syarat kedua adalah kemampuan untuk mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki. Tanpa memiliki ke-mampuan ini, kita akan selalu merasakan ketidakpuasan dalam hidup kita.

Ada banyak masalah yang bisa timbul akibat perasaan ”tidak cukup”. Kita senantiasa menginginkan lebih sehingga merasa perlu membuat Tuhan melakukan apa pun untuk mencukupi rasa kurang kita. Kenyataannya, kita tidak pernah akan merasa cukup sehingga kita tidak akan pernah merasakan pertolongan Tuhan dalam hidup kita.

Pertolongan apa pun yang dilakukan Tuhan tidak akan pernah cukup dalam hidup seseorang yang tidak pernah berkata ”cukup”.

Langkah kedua adalah aksi dari Tuhan. Setelah kita tidak menjadi hamba uang dan belajar berkata “cukup”, Tuhan akan bertindak. Perkataan Tuhan “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” akan menjadi sangat nyata dalam hidup kita.

Tanpa melakukan bagian yang menjadi tanggung jawab kita, pertolongan Tuhan tidak akan nyata dalam hidup kita. Akibatnya, kita menyalahkan Tuhan karena tidak mau menolong kita. Dampaknya, kita tidak yakin bahwa Tuhan memang benar-benar mau menolong kita.

Namun, ketika kita sudah melakukan tanggung jawab kita, maka kita akan senantiasa merasakan pertolongan Tuhan dalam hidup kita. Dengan demikian, Ibrani 13:5-6 akan menjadi nyata dalam hidup kita. Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku .